Kabayan News Kabayan News
/home / olahraga / Profil African Football League,...
OLAHRAGA

Profil African Football League, Kompetisi Klub yang Hanya Bertahan Satu Edisi

By Redaksi Kabayan News • 2 min read • 2 Agustus 2026
Trofi African Football League dan laga final antara Mamelodi Sundowns melawan Wydad Casablanca

Trofi African Football League dan laga final antara Mamelodi Sundowns melawan Wydad Casablanca

African Football League atau AFL merupakan kompetisi antarklub yang digagas oleh FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Afrika atau CAF sebagai ajang elite bagi klub-klub terbaik Benua Hitam. Namun, turnamen yang sempat diumumkan dengan nama Africa Super League ini hanya berlangsung satu edisi pada 2023 dan kini tak lagi dilanjutkan.

Gagasan awal kompetisi ini dilontarkan oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, pada November 2019 saat berkunjung ke Republik Demokratik Kongo untuk merayakan ulang tahun ke-80 TP Mazembe. Infantino mengusulkan pembentukan liga yang melibatkan 20 klub top Afrika dengan target pendapatan mencapai 100 juta dolar AS, serta berjanji menggalang dana 1 miliar dolar untuk membangun stadion berstandar FIFA di seluruh Afrika.

Nama Africa Super League resmi diluncurkan pada 10 Agustus 2022 di Arusha, Tanzania, di hadapan Presiden CAF Patrice Motsepe. Namun, pada Juni 2023, Motsepe mengumumkan perubahan nama menjadi African Football League setelah mendapat saran dari mitra di Eropa untuk menghindari asosiasi negatif dengan proyek European Super League yang gagal.

Format awal turnamen ini direncanakan melibatkan 24 klub yang dibagi dalam tiga grup berdasarkan wilayah, ditambah fase gugur. Namun, untuk edisi perdana yang digelar 20 Oktober 2023, jumlah peserta dipangkas drastis menjadi hanya 8 tim dengan sistem knock-out dua leg sejak perempat final hingga final. Langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran pelaksanaan perdana.

Mamelodi Sundowns dari Afrika Selatan keluar sebagai juara perdana setelah mengalahkan Wydad Casablanca di final. Hadiah juara yang ditawarkan mencapai 4 juta dolar AS, sementara runner-up mendapat 2,5 juta dolar AS. Trofi AFL sendiri dibuat oleh Thomas Lyte dari emas 24 karat setinggi 54 sentimeter dengan bobot hampir 14 kilogram.

Meski digadang-gadang sebagai terobosan besar, kompetisi ini tak mampu bertahan. Kritik datang dari berbagai pihak, terutama soal target pendapatan yang dinilai tidak realistis mengingat lemahnya infrastruktur dan tingginya biaya perjalanan di Afrika. Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa AFL akan menggerus pamor kompetisi yang sudah mapan seperti CAF Champions League dan CAF Confederation Cup.

Konflik kepentingan antar klub dari Afrika Utara, Selatan, dan wilayah lain juga menjadi tantangan tersendiri. Perbedaan level ekonomi dan fasilitas membuat kompetisi ini sulit menciptakan pemerataan daya saing. Tak heran jika publik pun kurang antusias menyambut turnamen yang dianggap hanya "proyek percobaan" dari CAF dan FIFA.

Hingga saat ini, belum ada kabar mengenai kelanjutan African Football League. Kompetisi yang hanya berlangsung sekali itu kini menjadi catatan sejarah sebagai salah satu proyek ambisius sepak bola Afrika yang gagal bertahan. CAF pun kembali fokus mengembangkan turnamen tradisionalnya tanpa tambahan beban kompetisi baru.

Topics
african football league afl caf mamelodi sundowns gianni infantino sepak bola afrika kompetisi klub africa super league patrice motsepe turnamen sepak bola
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.