Matematikawan University of Oxford Alain Goriely membongkar mitos lama mengenai struktur arsitektur kuil kuno Parthenon di Athena yang selama 2000 tahun diyakini memiliki kurva khusus untuk mengoreksi ilusi optik.
Berdasarkan investigasi mendalam serta pemodelan komputasi yang rumit, Goriely menyimpulkan bahwa anggapan adanya rekayasa visual guna meluruskan garis bangunan tersebut tidak terbukti secara nyata.
"Parthenon adalah lebih dari sekadar bangunan di Akropolis Athena; bangunan ini telah menjadi teladan zaman kuno dan wadah cita-cita kesempurnaan generasi penerus," tulis Goriely dalam studinya yang dipublikasikan di jurnal Royal Society Open Science.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKuil Parthenon dibangun selama 15 tahun pada masa keemasan Athena untuk mendedikasikan dewi pelindung kota tersebut, sebelum sempat beralih fungsi menjadi gereja, masjid, hingga gudang mesiu yang rusak akibat pengeboman pasukan Venesia pada 1687.
Fakta Ilmiah Dibalik Kelengkungan Kuil Parthenon
Klaim terkait koreksi ilusi optik pada Parthenon pertama kali dicetuskan oleh arsitek Romawi abad ke-1 SM Vitruvius, yang menyebutkan adanya lengkungan halus pada kolom dan dasar kuil untuk mencegah kesan cekung.
Namun, melalui perhitungan matematis dan pemodelan komputer modern, Goriely menemukan bahwa lengkungan sekecil 0,7 inci tersebut hampir tidak kasat mata dan mustirat mengubah pandangan dari jarak normal.
Goriely menduga lengkungan pada dasar kuil dibuat bukan untuk trik cahaya, melainkan untuk fungsi yang jauh lebih sederhana seperti mengalirkan genangan air hujan atau estetika visual masyarakat Yunani kuno.
Keyakinan berlebihan terhadap kesempurnaan arsitektur Yunani yang dimulai sejak era Pencerahan membuat masyarakat kerap menganggap para builder masa lalu memiliki pengetahuan ilmiah modern tingkat tinggi.