Peneliti kognitif dari University of California San Diego Federico Rossano menyatakan bahwa anjing memiliki kemampuan jauh lebih baik dibandingkan spesies hewan lain dalam memahami komunikasi manusia. Selama bertahun-tahun, studi mengenai anjing hanya berfokus pada pemiliknya dan bersifat subjektif tanpa menggali emosi hewan tersebut secara mendalam.
Perkembangan teknologi modern kini mengubah pandangan sains terhadap anjing melalui berbagai riset perilaku dan kognitif yang melibatkan 10.000 anjing di 6 benua. Hasil riset menunjukkan bahwa anjing mampu menggunakan papan suara berisi tombol kata secara terarah dan efektif untuk berkomunikasi dengan pemiliknya di rumah.
Studi lain yang dipimpin oleh kandidat doktor ilmu saraf dari University of Parma Chiara Canori menemukan bahwa anjing dapat berkedip merespons kedipan pemilik maupun orang asing. Respons timbal balik ini diyakini berfungsi untuk memperkuat ikatan sosial serta menyampaikan kondisi emosional hewan tersebut kepada manusia di sekitarnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeRiset neuroimaging menggunakan mesin magnetic resonance imaging pada awal musim panas ini juga membuktikan bahwa otak anjing merespons secara berbeda saat melihat wajah manusia yang bahagia dibandingkan wajah sedih. Pemahaman mendalam tentang kecerdasan emosional ini membantu manusia merawat 47 persen populasi anjing peliharaan rumah tangga dengan lebih baik.
Evolusi Perilaku dan Kedekatan Anjing dengan Manusia
Para ilmuwan memahami bahwa anjing memiliki sifat alami sebagai makhluk kooperatif yang diwarisi langsung dari nenek moyang serigala mereka. Sifat kooperatif tersebut membuat anjing cenderung lebih memilih pemiliknya dibandingkan manusia lain berdasarkan insting sosial yang telah berkembang selama ribuan tahun.
Fenomena menggemaskan seperti kepala anjing yang miring saat diajak berbicara ternyata merupakan salah satu tanda bahwa hewan tersebut sedang memproses bahasa manusia. Penelitian terdahulu juga mencatat kemampuan anjing membedakan kata-kata, suara pria dan wanita, gonggongan sesama anjing, hingga perbedaan bahasa asing.
Federico Rossano menilai bahwa peningkatan pemahaman terhadap kecerdasan anjing dapat membantu ilmuwan menjawab pertanyaan metakognitif yang lebih kompleks di masa depan. Pertanyaan tersebut meliputi kemampuan anjing memperkirakan waktu, mengenali batasan pengetahuan mereka, serta merekam kejadian di sekitar tanpa harus bereaksi secara fisik.
Hubungan erat antara manusia dan anjing yang telah terjalin selama 15.000 tahun menjadi dorongan kuat bagi para periset untuk terus mendalami isi kepala hewan peliharaan tersebut. Pemahaman sains yang semakin matang diharapkan mampu memberikan apresiasi lebih besar terhadap kehidupan mental makhluk setia yang tinggal bersama manusia.