Singapura, upaya mewujudkan visi Singapura car-lite telah berlangsung lebih dari satu dekade, tetapi hasrat warga untuk memiliki mobil pribadi ternyata masih sulit dipadamkan. Berbagai kebijakan pembatasan dan investasi besar di transportasi publik belum sepenuhnya menggeser ketergantungan pada kendaraan bermotor.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Bagi sebagian warga, memiliki mobil bukan sekadar kemewahan, melainkan kebutuhan yang tak terhindarkan. Seperti yang dialami Michael Liew, 52 tahun, seorang ayah tunggal yang harus mengantar anaknya sekolah, menemui klien, serta mengurus orang tuanya yang berusia 80-an dalam satu waktu.
Aktivitas padat itu membuat Liew menganggap mobil sebagai sesuatu yang non-negotiable. "Jika saya hidup sendiri, pasti saya bisa car-lite atau bahkan tanpa mobil, itu bukan masalah. Tapi ketika saya memiliki tanggungan, ini sangat sulit," ujarnya kepada CNA dikutip Jumat (31/7).
Berbeda dengan Liew, Jimmy Tang, 46 tahun, yang tidak memiliki tanggungan serupa, mengaku memilih mobil demi kenyamanan pribadi. "Saat saya mengemudi, saya berada di lingkungan saya sendiri, hujan atau panas. Saya bisa memutar musik keras-keras, berpikir keras, atau bahkan menangis," katanya.
Tang memperbarui Certificate of Entitlement atau COE mobilnya pada April lalu. Ia mengaku frustrasi saat harus mengandalkan transportasi umum karena kereta yang padat, gangguan layanan MRT, dan ketidaknyamanan saat cuaca buruk. "Saya lebih baik di mobil sendiri daripada terjepit seperti sarden," tegasnya.
Upaya pembatasan kepemilikan mobil sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1970-an, seiring naiknya pendapatan dan permintaan kendaraan. Namun dorongan utama visi car-lite baru diluncurkan pada akhir 2014 oleh Perdana Menteri saat itu, Lee Hsien Loong, melalui Singapore Sustainability Blueprint.
Konsep car-lite bukan berarti bebas mobil, melainkan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi dengan mengutamakan transportasi umum, berjalan kaki, dan bersepeda. Demikian penjelasan konsultan teknik transportasi, Gopinath Menon, sebagaimana dilaporkan CNA.
Pemerintah pun menggelontorkan dana besar untuk memperluas jaringan rel menjadi 360 km pada 2030, menambah 1.000 bus, serta memperbaiki konektivitas pertama dan akhir perjalanan melalui program Walk2Ride dan jalur sepeda. Namun hasilnya, pangsa pengguna transportasi umum pada jam sibuk hanya naik dari 63 persen (2012) menjadi 66 persen (2024).
Sementara itu, permintaan mobil tetap kokoh tercermin dari premium COE yang terus melambung. Bahkan ketika pemerintah menambah kuota kendaraan, tingkat pertumbuhan kendaraan pun akhirnya dipotong bertahap dari 3 persen menjadi nol persen pada 2018, dan kebijakan ini bertahan hingga 2028.
Data Otoritas Transportasi Darat atau LTA menunjukkan jumlah mobil pribadi justru meningkat dari 519.645 unit pada 2015 menjadi 524.312 unit pada 2025. Hal ini dinilai pakar sebagai bukti bahwa permintaan residual, seperti kebutuhan mengurus keluarga atau pilihan sekolah anak, sulit dihilangkan hanya dengan kebijakan.
Associate Professor Walter Theseira dari Singapore University of Social Sciences menjelaskan, "Anda tidak bisa mendesain hilangnya keinginan orang tua untuk mengantar anak ke sekolah tertentu, meskipun sekolah itu jauh." Ia menambahkan bahwa iklim tropis Singapura juga turut mempertahankan permintaan akan mobil.
Namun demikian, pakar tetap menilai strategi car-lite belum gagal. Dr Raymond Ong dari NUS menyebut, jumlah pengguna transportasi umum terus tumbuh seiring pertumbuhan populasi dan permintaan perjalanan. Menurutnya, perbaikan keandalan dan kenyamanan angkutan massal masih bisa terus ditingkatkan.
LTA sendiri menyatakan tujuan akhir bukan menghilangkan kepemilikan mobil, melainkan mengendalikan populasi kendaraan dan kemacetan. Otoritas itu mengakui bahwa bagi sebagian warga Singapura, mobil menawarkan kenyamanan dan fleksibilitas yang belum bisa sepenuhnya ditiru oleh transportasi umum atau berbagi kendaraan.
Ke depan, LTA akan fokus pada penyempitan kesenjangan waktu tempuh antara transportasi umum dan pribadi. Hingga kini, lebih dari 3.500 tanggapan publik telah masuk dalam konsultasi Masterplan Transportasi Darat yang sedang disusun, dengan sebagian besar mendukung prioritas bagi transportasi umum.
Kisah Mohammad Faizal, 43 tahun, yang menjadi pengasuh orang tuanya, menggambarkan dilema tersebut. Ia terpaksa melepas mobil karena biaya COE yang membengkak, meskipun sangat membutuhkannya untuk mengantar ibunya yang menggunakan kursi roda dan ayahnya yang sakit jantung.
"Jika saya harus memesan taksi, mungkin sudah terlambat," kenang Faizal tentang pengalaman membawa ayahnya ke rumah sakit. Ia berencana beralih ke motor, namun tetap berharap bisa memiliki mobil lagi jika keadaan memungkinkan, demi kenyamanan dan praktisitas.
Di sisi lain, beberapa petinggi negara seperti Menteri Gan Kim Yong hingga anggota parlemen dari oposisi, Pritam Singh, juga mulai gencar mempromosikan penggunaan transportasi umum dengan membagikan momen mereka naik MRT atau bus di media sosial. Langkah ini menuai pujian sekaligus skeptisisme dari warganet.
Meskipun demikian, Menon menilai semakin banyak warga yang menerima transportasi umum sebagai bagian gaya hidup, berbeda dengan stigma negatif pada era 1960-1980-an. Kualitas layanan yang membaik dinilai mampu mengurangi kekecewaan atas mahalnya biaya kepemilikan mobil di Singapura.