Lim Shoon Yin resmi menjabat sebagai Direktur Eksekutif AWARE, organisasi advokasi hak perempuan terkemuka di Singapura. Di momen International Women's Day, ibu dari empat anak ini mengaku dirinya adalah seorang feminis yang hati-hati sekaligus pemarah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pertanyaan "Apakah Anda seorang feminis?" menjadi salah satu pertanyaan kunci saat Lim menjalani wawancara untuk posisi puncak di AWARE. Baginya, pertanyaan itu penting dan wajib diajukan kepada setiap calon pemimpin organisasi yang sudah dikenal lama dengan perjuangan hak-hak perempuan tersebut.
Lim mengaku harus bersikap hati-hati karena posisinya sebagai pemimpin AWARE membuatnya menjadi sasaran empuk kritik. Ia bahkan menggelar konferensi keluarga dengan keempat putrinya yang masih remaja untuk menanyakan pendapat mereka sebelum menerima jabatan ini. "Mereka bangga dan menganggap ini peluang besar," ujar Lim.
Namun kekhawatiran tetap ada. Lim kehilangan beberapa teman setelah pengangkatannya karena mereka menganggap AWARE sebagai kelompok feminis yang berisik. Ia juga mengingat peristiwa AWARE Saga 2009 ketika faksi konservatif sempat mengambil alih organisasi selama enam pekan sebelum akhirnya digulingkan melalui Rapat Umum Luar Biasa.
Meski demikian, Lim optimistis dengan kemajuan yang sudah dicapai. Ia melihat perubahan positif dari kebijakan diskriminatif di masa lalu, seperti kuota perempuan 30 persen di Fakultas Kedokteran NUS yang baru dihapus pada 2003 dan Skema Ibu Lulusan yang ditarik pada 1985. Perkosaan dalam pernikahan baru dikriminalisasi penuh pada 2020 dan undang-undang perlindungan kekerasan keluarga diperkuat pada 2023.
Namun Lim mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai. Survei Ipsos 2025 menunjukkan 62 persen warga Singapura merasa kesetaraan gender sudah cukup, sementara studi 2022 mengungkap hampir setengah responden percaya promosi kesetaraan perempuan justru diskriminatif terhadap laki-laki. "Angka ini mengkhawatirkan karena banyak yang tak sadar ketidaksetaraan masih terjadi," tegasnya.
Sepanjang 2025, pusat panggilan dan konseling AWARE membantu hampir 3.000 perempuan korban kekerasan dan diskriminasi gender. Jumlah itu mencakup kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, hingga diskriminasi di tempat kerja. "3.000 itu terlalu banyak, dan kami tahu masih banyak yang tak meminta bantuan," ungkap Lim.
Lim juga menyoroti ancaman baru dari kecerdasan buatan atau AI yang berpotensi mengganggu sektor pekerjaan yang didominasi perempuan seperti administrasi dan dukungan administrasi. Di Singapura, 10 persen lebih banyak perempuan dibanding laki-laki yang memegang peran yang rentan terdampak AI.
Pengalaman pribadinya sebagai ibu tunggal dari perceraian panjang membuat Lim bertemu dengan para istri asing dari keluarga transnasional berpenghasilan rendah. Mereka berjuang mendapatkan hak asuh anak setelah pasangan mereka membatalkan izin tinggal. Lim merasa geram melihat ketidakadilan yang dialami para ibu ini saat menjalani konseling wajib yang dinilainya tak sensitif.
Lim tak malu mengaku sebagai feminis pemarah. "Jika terlihat marah adalah cara untuk menciptakan perubahan, maka saya bangga menjadi feminis yang marah," ujarnya. Ia mencontohkan para pendiri AWARE yang juga perempuan-perempuan pemarah karena cinta mereka pada negara dan keinginan menciptakan masyarakat setara.