Peraturan mengenai pembatasan usia penggunaan media sosial bagi anak-anak dan remaja kini tengah menjadi sorotan global. Australia, Malaysia, hingga Prancis telah menerapkan regulasi ketat untuk membatasi akses platform digital bagi anak di bawah umur demi melindungi kesehatan mental mereka.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Meski demikian, efektivitas undang-undang tersebut kerap dipertanyakan karena para remaja dikenal sangat lihai mencari celah. Sejumlah ahli dan orang tua menilai bahwa aturan hukum atau kebijakan negara saja tidak akan pernah cukup untuk menyelesaikan akar permasalahan di ruang digital.
Kelvin Kao, seorang ayah dari lima anak yang juga praktisi kampanye digital, membagikan pengalamannya dalam menghadapi anak-anaknya yang meminta izin bermain media sosial. Alih-alih langsung melarang atau memberi aturan kaku, ia memilih untuk berdiskusi secara terbuka dan memberikan pemahaman mendalam.
Menurutnya, aturan formal di tingkat negara atau keluarga dapat disamakan seperti kamera pengawas kecepatan di jalan raya. Meskipun pengendara terkadang memperlambat laju kendaraan hanya saat mendekati kamera, keberadaan aturan tersebut tetap berfungsi menciptakan batasan norma sosial dan menekan risiko bahaya.
Kendati batasan usia minimum telah ditetapkan, anak-anak tetap berpotensi melanggarnya secara diam-diam. Ketika situasi tersebut terjadi, pendekatan persuasif melalui dialog dua arah dinilai jauh lebih efektif dibandingkan memberikan sanksi atau kemarahan yang berlebihan.
Orang tua juga dituntut untuk memberikan contoh nyata dalam pengelolaan waktu layar atau screentime. Melalui komunikasi yang hangat dan teladan yang baik, hubungan antara orang tua dan anak dalam menyikapi era digital dapat terjalin lebih erat.