Rencana reaktivasi Bandara Husein Sastranegara Bandung untuk melayani penerbangan komersial secara penuh menuai sorotan tajam. Langkah tersebut dinilai dapat mempersempit peluang Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka untuk berkembang menjadi gerbang udara utama di Provinsi Jawa Barat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Wakil Ketua DPRD Kabupaten Majalengka, Asep Eka Mulyana, menegaskan bahwa pengembangan BIJB Kertajati seharusnya tetap menjadi prioritas utama. Terlebih lagi, proyek strategis nasional tersebut telah menelan biaya pembangunan yang sangat besar hingga mencapai puluhan triliun rupiah.
"BIJB bukan hanya milik warga Majalengka, melainkan aset seluruh masyarakat Jawa Barat. Ini harus menjadi pertimbangan utama Pak Gubernur sebelum memutuskan menghidupkan kembali Bandara Husein sebagai bandara penumpang. Kami berharap ada upaya sungguh-sungguh untuk memprioritaskan Kertajati agar berfungsi optimal," ujar Asep, Jumat (17/7/2026).
Asep juga mengingatkan kembali mengenai besarnya pengorbanan masyarakat Majalengka demi berdirinya BIJB Kertajati. Ribuan hektare lahan pertanian produktif milik warga telah dibebaskan dan banyak penduduk yang harus rela merelakan tempat tinggal mereka demi fasilitas penerbangan dengan landasan pacu sepanjang 3.000 meter tersebut.
Selain kapasitas terminal yang mampu menampung jutaan penumpang, BIJB Kertajati diklaim memiliki keunggulan dari aspek keselamatan. Lokasi bandara internasional ini berada jauh dari area permukiman padat penduduk, kondisi yang berbanding terbalik dengan Bandara Husein Sastranegara yang berada di tengah Kota Bandung.
Di sisi lain, DPRD Majalengka menyambut positif penandatanganan nota kesepahaman antara PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan PT BIJB (Perseroda). Kerja sama ini diarahkan untuk mengembangkan kawasan Kertajati menjadi pusat industri kedirgantaraan baru, termasuk penyediaan fasilitas maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat.
Langkah sinergi antara PT DI dan PT BIJB ini dipandang sebagai salah satu upaya konkret dalam menyelamatkan aset daerah dan pusat. "Harapannya, aset terselamatkan, BIJB Kertajati benar-benar berfungsi maksimal. PT DI bisa berkembang di Majalengka. Penerbangan komersial pun ke depan bisa berjalan dengan rute yang semakin luas," pungkas Asep.