Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus berkomitmen mendorong terwujudnya kemandirian vaksin nasional. Langkah nyata ini dibuktikan melalui peluncuran Bio-TCV, sebuah vaksin tifoid konjugat hasil inovasi yang dikembangkan melalui kolaborasi solid antara akademisi, industri, dan pemerintah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Vaksin Bio-TCV merupakan buah kerja sama nyata dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan PT Bio Farma. Sinergi ini dinilai menjadi bukti konkret atas kemampuan Indonesia dalam mengubah hasil penelitian laboratorium menjadi produk kesehatan siap pakai bagi masyarakat luas.
Berdasarkan informasi resmi, Bio-TCV dikembangkan khusus sebagai vaksin untuk memberikan imunisasi aktif terhadap penyakit demam tifoid yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Vaksin ini dapat diberikan mulai dari bayi usia enam bulan hingga orang dewasa, sehingga diharapkan mampu memperkuat program imunisasi nasional sekaligus memperluas perlindungan bagi kelompok rentan.
Tidak hanya menyasar pasar domestik, vaksin inovatif ini juga diproyeksikan untuk menembus pasar internasional melalui proses WHO Prequalification. Jika tahapan krusial tersebut berhasil dilalui, Bio-TCV tidak sekadar memenuhi kebutuhan dalam negeri, melainkan juga membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi bagian penting dalam rantai pasok vaksin dunia.
Kepala BPOM Republik Indonesia, Taruna Ikrar, menilai kehadiran Bio-TCV bukan sekadar kehadiran produk baru, melainkan penanda babak baru pembangunan kesehatan di tanah air. "Riset, industri, dan pemerintah kini tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan dalam satu ekosistem inovasi," ujarnya.
Dalam proses pengembangannya, FKUI bersama RSCM memimpin pelaksanaan uji klinis Fase I, II, hingga III dengan standar ilmiah dan etik yang sangat ketat. Di sisi lain, PT Bio Farma menempuh proses panjang penguasaan teknologi melalui kemitraan dengan International Vaccine Institute (IVI) sejak 2010 dan transfer teknologi pada 2013 hingga akhirnya mampu memproduksi vaksin tersebut secara mandiri.
Selama seluruh proses berjalan, BPOM berperan aktif mengawal setiap tahapan, mulai dari pendampingan uji klinis, standardisasi produk, pengawasan proses produksi, hingga evaluasi mutu, keamanan, dan khasiat vaksin. Seluruh penilaian dilakukan melalui mekanisme accelerated review, yaitu pendekatan yang mempercepat proses regulatori tanpa sedikit pun mengurangi ketelitian ilmiah maupun perlindungan terhadap masyarakat.
Taruna Ikrar menegaskan bahwa kehadiran Bio-TCV menjadi salah satu milestone penting dalam membangun kemandirian sektor kesehatan nasional. Keberhasilan ini dicapai melalui penguasaan riset yang mendalam, kesiapan teknologi, kapasitas produksi, serta sistem regulasi yang kredibel.