Isu mengenai generasi muda yang dianggap pemalas dan kurang termotivasi dalam bekerja selalu berulang dari masa ke masa. Stigma serupa dulunya juga pernah diarahkan kepada generasi milenial hingga Gen X, yang menunjukkan bahwa anggapan tersebut merupakan siklus penilaian antargenerasi yang keliru.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengalaman lebih dari satu dekade dalam mengelola karyawan muda, akar masalah sebenarnya bukan terletak pada etos kerja para pekerja baru. Perusahaan sering kali keliru dalam menerapkan pendekatan manajemen serta gagal menyelaraskan ekspektasi sejak awal proses perekrutan karyawan baru.
Proses wawancara kerja seharusnya tidak hanya dimanfaatkan untuk saling merayu antara perusahaan dan kandidat. Kejujuran sejak awal mengenai tantangan pekerjaan, jam kerja yang panjang, hingga ekspektasi peran sangat krusial untuk membangun keselarasan tujuan jangka panjang.
Banyak perusahaan kerap menyamakan tingkat kepatuhan dengan motivasi kerja yang tinggi, padahal keterlibatan karyawan yang sesungguhnya diukur dari hasil kerja nyata. Otoritas kepemimpinan juga tidak bisa diraih secara otomatis hanya karena jabatan, melainkan harus dibuktikan lewat kompetensi dan keteladanan.
Perusahaan juga perlu memahami bahwa motivasi seseorang di tempat kerja bersifat dinamis dan memiliki siklus pasang surut. Oleh karena itu, alih-alih melontarkan kritik kepada pekerja muda, para pemimpin organisasi didorong untuk fokus menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan transparan.