Singapura, founder sebuah agensi kreatif mengaku menyesali keputusannya untuk bungkam selama dua pekan saat perusahaannya dilanda krisis. Kelvin Kao mengungkapkan bahwa sikap diamnya justru memicu spekulasi dan kecemasan yang berkepanjangan di kalangan karyawan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pada 2021, Kao pernah dengan bangga bercerita ke media bahwa agensinya selamat dari pandemi COVID-19 tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja. Namun sebulan setelah wawancara itu, perusahaannya kehilangan tiga klien besar yang menjadi pukulan telak bagi usaha kecilnya.
Dalam dua pekan setelah kehilangan klien, Kao sibuk menghitung anggaran dan menyusun strategi. Ia mengeksplorasi pemotongan biaya dan berbagai opsi untuk menghindari PHK, namun akhirnya menyadari pendapatan tak lagi cukup untuk mempertahankan semua karyawan.
Kao akhirnya terpaksa merumahkan 20 persen timnya. Yang ia sadari belakangan adalah bagaimana dua pekan keheningan itu dirasakan oleh karyawannya, yang sama sekali tidak memiliki konteks dan informasi seperti yang ia miliki.
"Saya tahu akun mana yang hilang, seberapa serius situasinya, rencana kontingensi apa yang masih mungkin, dan berapa banyak waktu yang tersisa. Tim saya tidak memiliki semua itu," tulis Kao dalam esainya di CNA TODAY dikutip Jumat (31/7).
Ketidakpastian perlahan meresap ke tempat kerja. Percakapan antar karyawan menjadi lebih pendek dan hati-hati. Setiap undangan rapat mendadak terasa lebih mengancam, meskipun sebenarnya hanya check-in biasa atau sesi brainstorming.
Tanpa informasi, karyawan hanya bisa berspekulasi dan menarik kesimpulan sendiri dari potongan-potongan informasi yang mereka miliki. Mereka biasanya membayangkan skenario terburuk, karena merekalah yang harus menghadapi dampaknya dan memberi tahu keluarga.
Kao mengamati bahwa fenomena serupa terjadi di berbagai industri selama gelombang PHK tahun lalu. Ia melihat kesenjangan persepsi antara pemimpin di puncak dan pekerja di lapangan, dan bertanya apakah banyak organisasi salah memahami apa yang benar-benar dibutuhkan karyawan.
Jawaban sederhana adalah "transparansi lebih besar", tetapi realitasnya lebih rumit. Pemimpin sering beroperasi dengan informasi yang tidak lengkap, kesepakatan masih dinegosiasikan, anggaran masih direvisi, dan batasan hukum serta komersial mungkin membatasi apa yang bisa diungkapkan.
"Berbicara terlalu dini dapat menggoyahkan situasi yang masih bisa diselamatkan. Ini kendala nyata, tetapi diam juga membawa konsekuensi yang harus ditanggung sepenuhnya oleh karyawan," jelas Kao.
Kao menegaskan bahwa sebagian besar karyawan sudah merasakan ada yang salah jauh sebelum pemimpin mengatakannya. Proyek yang tadinya "urgent" ditunda secara misterius, posisi yang kosong tidak diisi, dan manajer berubah menjadi lebih tertutup atau justru terlalu meyakinkan.
"Orang-orang memperhatikan perubahan suasana ini. Titik-titiknya sudah ada, mereka hanya menghubungkannya," kata Kao. Ia menjelaskan bahwa keheningan justru menciptakan lebih banyak kecemasan dan spekulasi, karena manusia secara alami akan merasa takut tanpa kepastian.
Kao juga menyoroti tekanan besar yang dialami manajer tingkat menengah. Eksekutif senior mengharapkan mereka menjaga stabilitas dan moral, sementara tim mereka bergantung pada jawaban yang tidak mereka miliki. Tekanan dari atas dan bawah, dan tak ada jalan keluar.
Dalam salah satu PHK yang dilaporkan secara luas, manajer disebut mengetahui apa yang terjadi dengan cara yang sama seperti tim mereka, ketika akses sistem karyawan dipotong tanpa peringatan. "Itu tidak benar," tegas Kao.
Menurutnya, ada perbedaan antara menahan informasi karena memang belum waktunya dan menahan informasi karena pembicaraan itu tidak nyaman. Kehilangan pekerjaan sudah sulit, tetapi ketidakpastian yang berkepanjangan menciptakan kerugian tambahan yang menyebar jauh melampaui orang yang akhirnya di-PHK.
Begitu karyawan merasakan ada yang salah dan tak ada yang membahasnya secara langsung, kecemasan menjadi kolektif. Produktivitas menurun seiring terkikisnya kepercayaan. Orang-orang yang tidak pernah berisiko pun diam-diam mulai memperbarui CV mereka.
Kao mengaku masih sering memikirkan periode 2021 itu. Rasa malu karena telah berbicara dengan percaya diri tentang mempertahankan karyawan, dan betapa cepatnya keadaan berubah. Namun rasa malu itu kecil dibandingkan ketidakpastian yang dirasakan oleh mereka yang mencoba menyusun masa depan tanpa tahu apa yang akan terjadi.
"Menurut saya, karyawan layak mendapatkan kebenaran yang cukup untuk membuat keputusan yang tepat tentang hidup mereka, bahkan jika itu berarti mereka mungkin membuat pilihan yang tidak menguntungkan bagi kami sebagai bos," ujar Kao.
Beberapa akan memilih untuk tetap tinggal dan bertahan. Yang lain mungkin mulai mencari di tempat lain. Kao menegaskan itu bukan ketidakloyalan, melainkan naluri bertahan hidup. "Pada akhirnya, karyawan biasanya tahu lebih banyak daripada yang dipikirkan pemimpin. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah organisasi akan berbicara dengan jelas dan cukup awal, atau membiarkan mereka merakit versi realitas yang menyimpang dari potongan-potongan informasi."