Kegagalan beruntun di partai puncak seringkali menjadi beban yang teramat berat, bahkan bagi seorang megabintang sepak bola sekalipun. Pada 26 Juni 2016, pemandangan pilu terlihat di lorong MetLife Stadium, Amerika Serikat. Lionel Messi, dengan tatapan kosong dan nada suara yang lesu, menghindari kejaran wartawan setelah Argentina kembali menelan kekalahan pahit di laga final.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Bagi pemain berjuluk La Pulga tersebut, malam itu merupakan kegagalan keempatnya di final turnamen mayor bersama Albiceleste. Sebelumnya, ia harus puas menjadi runner-up di Copa America 2007 setelah tumbang 3-0 dari Brasil, Piala Dunia 2014 usai ditekuk Jerman 1-0 via babak perpanjangan waktu, dan Copa America 2015 ketika kalah adu penalti dari Chili. Skenario buruk itu kembali terulang di tempat yang sama, menghadapi lawan yang sama, Chili.
"Ini sudah berakhir, perjalanan saya bersama tim nasional sudah selesai. Empat final yang kalah, ini memang bukan untuk saya," ujar Lionel Messi dengan penuh keputusasaan di hadapan media yang mengerubunginya di mixed zone.
Pernyataan emosional tersebut bukan sekadar reaksi sesaat setelah pertandingan yang panas. Tekanan publik dan perbandingan abadi dengan Diego Maradona, sang legenda yang membawa Argentina juara Piala Dunia 1986, telah menguras mentalnya. Bahkan sebelum final, Maradona sempat melontarkan kritik pedas dengan mengatakan bahwa jika Messi dan kolega tidak memenangkan kompetisi tersebut, lebih baik mereka tidak usah pulang ke Argentina.
Kritik tajam memang terus mengalir deras kepadanya sejak final tahun 2015. Direktur publikasi surat kabar Olé, Leo Farinella, bahkan pernah menulis kritik yang sangat menusuk. "Ban kapten tidak melingkar di lengan yang tepat. Pemain terbaik di dunia tidak mewakili kita di momen-momen penting. Penampilannya kemarin di final benar-benar tidak layak," tulisnya kala itu.
Tidak hanya dari media, hubungan Messi dengan federasi sepak bola Argentina (AFA) juga sedang merenggang akibat manajemen perjalanan tim yang buruk. Ditambah lagi, sang pemain saat itu tengah didera kasus hukum terkait dugaan penggelapan pajak dalam skandal Panama Papers. Semua tekanan itu menumpuk hingga membuat sang maestro memutuskan untuk menyudahi perjalanannya, sebelum akhirnya ia membatalkan keputusan tersebut dan berhasil meraih kejayaan tertinggi beberapa tahun berselang.