Linus Karp, seorang seniman teater asal Inggris, memilih cara unik untuk merespons pengalaman traumatis sebagai korban serangan homofobik di kawasan Soho, London. Ia mengubah insiden tersebut menjadi pertunjukan komedi berjudul "Linus Karp Was Hit With an Umbrella" yang siap dipentaskan di Edinburgh Fringe.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Serangan itu terjadi pada 2024, hanya beberapa hari sebelum Karp dan suaminya, Joseph Martin, dijadwalkan tampil di Edinburgh Fringe. Karp yang juga dikenal sebagai salah satu pendiri Awkward Prods, bersama Martin menciptakan sejumlah pertunjukan populer seperti "Gwyneth Goes Skiing" dan "Diana: The Untold and Untrue Story".
Dalam wawancara eksklusif dengan PinkNews, Karp mengungkapkan bahwa kekhawatiran terhadap meningkatnya retorika queerphobic dalam beberapa tahun terakhir mendorongnya untuk menulis pengalaman itu. "Setelah serangan dan proses penyelidikan, saya banyak menulis. Saya mulai merasa punya cerita penting untuk disampaikan," ujar Karp.
Pertunjukan berdurasi 60 menit ini akan digelar di Underbelly Bristo Square (Friesian) pada 5-30 Agustus mendatang. Sebelumnya, pertunjukan akan dipentaskan lebih dulu di Park Theatre London pada 23-25 Juli. Karp menyebut naskah ini sebagai yang paling emosional dan sulit yang pernah ia tulis.
Karp menceritakan bagaimana suaminya berhasil mengatasi pelaku dan menahannya hingga polisi datang, reaksi publik, serta proses penyelidikan yang berlangsung. "Ini adalah penuturan langsung tentang serangan homofobik dan segala hal yang menyusul. Meskipun mengangkat banyak topik serius, masih ada ruang untuk komedi yang konyol," jelasnya.
Menariknya, Karp mengaku memiliki rasa simpati pada pelaku. "Hal terbaik di dunia adalah kebahagiaan queer, jadi siapa pun yang diisi dengan kebalikannya jelas tidak bahagia. Orang yang melakukan tindakan ini pasti memiliki kehidupan yang cukup menyedihkan," ungkapnya.
Meski demikian, Karp mengakui serangan itu meninggalkan dampak psikologis. Ia mengaku kini lebih waspada saat berada di tempat umum dan berpikir dua kali sebelum mengenakan pakaian yang terlihat queer. "Saya tidak suka bahwa pikiran-pikiran ini muncul di benak saya, tetapi saya tidak merasa seaman dulu," tuturnya.
Karp menegaskan pentingnya visibilitas queer di ruang publik. "Tidak ada dari kita yang berani mengekspresikan kequeer-an kita jika orang lain belum melakukannya sebelumnya. Di saat queerphobia meningkat, visibilitas queer tetap sangat penting," tegasnya.
Ia juga merespons para pembenci dengan candaan. "Saya akan bertanya, mengapa Anda membaca PinkNews? Cobalah untuk menjadi lebih queer, hidup lebih menyenangkan seperti itu," kelakarnya. Awkward Prods bahkan pernah memanfaatkan kritik dari media konservatif untuk promosi, dengan tagar "repellent trash" dari Daily Mail justru meningkatkan penjualan tiket.
Karp berpesan agar masyarakat menuntut otoritas melindungi komunitas LGBT. "Keamanan orang queer bukanlah tanggung jawab individu queer. Yang perlu dihentikan adalah para homofob dan transfob, bukan kami yang harus lebih berhati-hati atau mengurangi cara hidup kami," pungkasnya.