Amal atau charity merupakan tindakan sukarela yang bertujuan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Dalam perkembangannya, amal tidak sekadar aksi kemanusiaan, tetapi juga memiliki akar filosofis dan religius yang mendalam. Kata "charity" sendiri berasal dari bahasa Latin "caritas" yang dalam terjemahan Kitab Suci digunakan untuk menerjemahkan kata Yunani "agape", yaitu bentuk kasih yang tulus tanpa pamrih.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Makna amal telah bergeser seiring waktu. Pada awal abad ke-20, istilah ini masih identik dengan "cinta kasih Kristen". Namun kini, amal lebih dipahami sebagai pemberian kepada yang membutuhkan, baik dalam bentuk uang, barang, maupun waktu. Perubahan ini tercermin dalam terjemahan Alkitab modern yang mengganti kata "charity" dalam 1 Korintus 13 menjadi "love" atau kasih.
Bentuk amal yang paling sederhana adalah pemberian langsung kepada fakir miskin, janda, yatim piatu, dan orang sakit. Dalam praktiknya, amal tidak hanya mencakup kebutuhan dasar seperti makanan, air, pakaian, dan tempat tinggal, tetapi juga kunjungan ke tahanan, pembebasan sandera, pendidikan anak yatim, hingga dukungan pada gerakan sosial. Donasi untuk riset kanker pun termasuk amal karena secara tidak langsung membantu mereka yang menderita.
Para filsuf dan pemikir sosial memiliki pandangan beragam tentang amal. Oscar Wilde dalam esainya "The Soul of Man Under Socialism" mengkritik amal sebagai "cara restitusi parsial yang tidak memadai" dan justru melanggengkan penyakit kemiskinan. Slavoj Žižek menambahkan bahwa amal sering menjadi cara bagi orang kaya untuk tetap menikmati hidup tanpa rasa bersalah, bahkan sambil merasa bangga telah ikut melawan penderitaan.
Friedrich Engels dalam tulisannya tentang kondisi kelas pekerja di Inggris juga menyoroti bahwa amal sering digunakan untuk menutupi penderitaan yang tidak nyaman dilihat. Sementara itu, teolog Reinhold Niebuhr berpendapat bahwa amal kerap menggantikan keadilan sejati, dengan memberikan bantuan yang sifatnya simbolis tanpa menyentuh akar ketidaksetaraan sistemik.
Di sisi lain, filsuf Peter Singer mengkritik kecenderungan amal yang lebih memilih penerima yang dekat dan terlihat. Menurutnya, kepentingan semua individu harus dipertimbangkan secara setara, tanpa memandang lokasi atau status kewarganegaraan. Pendekatan ini melahirkan gerakan "effective altruism" yang menggunakan bukti dan penalaran untuk menentukan cara paling efektif memberikan manfaat terbesar bagi orang lain.
Dalam praktik pemberian amal, studi menunjukkan bahwa masyarakat dengan pendapatan lebih rendah justru menyumbang persentase lebih besar dari penghasilannya dibandingkan kelompok kaya. Di Amerika Serikat, 20 persen penduduk termiskin menyumbang 4,3 persen dari pendapatan mereka, sementara 20 persen terkaya hanya 2,1 persen. Orang religius juga cenderung lebih dermawan dibandingkan yang tidak religius.
Setiap agama memiliki tradisi amalnya masing-masing. Dalam Islam, zakat merupakan kewajiban 2,5 persen dari tabungan setiap tahun, sementara sedekah bersifat sukarela. Yahudi mengenal tzedakah yang berarti keadilan dan kebenaran, bukan sekadar kemurahan hati. Hindu, Buddha, dan Jainisme mengajarkan dana atau pemberian tanpa pamrih yang merupakan salah satu kesempurnaan spiritual.
Namun, pendekatan berbasis kebutuhan dalam amal mendapat kritik dari para akademisi seperti Mariana Chilton yang mendorong pendekatan berbasis hak. Chilton berargumen bahwa kebijakan pemerintah saat ini masih mencerminkan model kebutuhan, yang memperkuat anggapan bahwa amal saja cukup untuk mengatasi kerawanan pangan. Ia menyerukan peningkatan akuntabilitas dan partisipasi publik dalam kebijakan kesejahteraan.
Kritik lain datang dari laporan Institute of Economic Affairs pada 2012 yang menyoroti praktik pemerintah mendanai lembaga amal yang kemudian melobi untuk kepentingan pemerintah. Sementara itu, Paus Leo XIV membela karya amal dengan mengingatkan para kritikus untuk kembali membaca Injil dan tidak menggantinya dengan kebijaksanaan duniawi.
Di tengah berbagai kritik dan pendekatan, amal tetap menjadi instrumen penting dalam mengatasi kesenjangan sosial. Gerakan effective altruism yang digawangi Peter Singer, William MacAskill, dan Toby Ord mencoba menjawab tantangan dengan pendekatan berbasis bukti. Mereka mendorong donasi tidak hanya pada sektor nirlaba, tetapi juga pada proyek ilmiah, kebijakan, dan perusahaan yang diperkirakan dapat menyelamatkan jiwa dan membantu manusia secara maksimal.