Indonesia mulai serius memetakan potensi logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element (REE). Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) bersama Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) saat ini tengah menyusun estimasi sumber daya dan cadangan mineral strategis tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Ketua Umum Perhapi, Sudirman Widhy Hartono, mengungkapkan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Badan Industri Mineral (BIM). Badan yang baru dibentuk ini memang memiliki fokus khusus untuk mengembangkan penelitian terkait logam tanah jarang di Tanah Air.
"Perhapi bersama IAGI sudah dimintai bantuan oleh Badan Industri Mineral dalam penyusunan standar estimasi perhitungan sumber daya dan cadangan potensi logam tanah jarang yang ada di Indonesia," ujar Sudirman saat dihubungi pada Kamis (30/7/2026).
Menurut Sudirman, tantangan utama dalam pemetaan ini adalah karakteristik LTJ di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa logam tanah jarang pada umumnya bukanlah mineral utama, melainkan mineral ikutan yang terkandung dalam komoditas tambang lain, sehingga memerlukan metode perhitungan yang spesifik dan akurat.
Langkah ini menjadi sinyal positif bagi pengembangan industri hilir mineral di Indonesia, mengingat logam tanah jarang memiliki nilai strategis yang tinggi untuk berbagai sektor teknologi tinggi, termasuk baterai, elektronik, dan pertahanan.