Sebagaimana diwartakan oleh portalkaltim.com, ruang digital dihebohkan dengan aksi saling hujat di media sosial antara pasien peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan sejumlah tenaga kesehatan. Perdebatan sengit yang berawal dari kritik pelayanan kesehatan ini dikhawatirkan dapat merusak hubungan harmonis antara masyarakat dan pemberi layanan medis.
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur, dr Jaya Mualimin, angkat bicara dan meminta semua pihak untuk tidak melihat masalah secara sepihak. Menurutnya, akar dari perseteruan ini adalah rendahnya literasi serta pemahaman masyarakat maupun tenaga kesehatan terhadap sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
"Program JKN itu bagian dari program kita, program nasional, programnya negara, programnya kita semuanya. Kok mereka tidak bisa literasi terhadap program ini?" ujar dr Jaya saat memberikan keterangan, Rabu (19/8/2026).
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLebih lanjut, Dinkes Kaltim telah mengambil langkah cepat dengan mendatangi sejumlah rumah sakit untuk memperingatkan para tenaga kesehatan agar tidak ikut melontarkan hujatan kepada pasien peserta BPJS Kesehatan. Pihaknya menegaskan bahwa pasien JKN merupakan bagian integral dari sistem yang berhak mendapatkan pelayanan prima tanpa diskriminasi.
dr Jaya juga mengingatkan para tenaga kesehatan agar lebih rasional dalam bersikap, mengingat gaji dan operasional fasilitas kesehatan turut ditopang oleh aliran dana klaim BPJS Kesehatan setiap bulannya. "Setiap bulan mungkin di antara tenaga kesehatan ada pendapatan dari klaim BPJS yang masuk di kantong dan dimakan oleh kita. Kalau dihujat, itu nanti jadi apa makanannya?" tegasnya.
Mengutip penjelasan Dinkes Kaltim, kesalahpahaman kerap terjadi karena banyak pihak keliru menilai peran BPJS Kesehatan yang sebenarnya bertindak sebagai pengelola premi dan pembayaran klaim, bukan sebagai pembangun seluruh fasilitas fisik rumah sakit.
Melalui kejadian ini, Dinkes Kaltim berharap masyarakat dan tenaga kesehatan bisa meningkatkan literasi serta memperbaiki komunikasi. Dengan pemahaman yang utuh, program JKN diharapkan dapat berjalan optimal tanpa diwarnai stigma negatif maupun polemik di dunia maya.