Kementerian Komunikasi dan Digital mengajak publik untuk melihat secara utuh pesan yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya menjaga optimisme nasional. Publik diimbau agar tidak terjebak pada perdebatan istilah yang justru dapat mengalihkan perhatian dari substansi persoalan yang sedang diselesaikan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya, menyatakan bahwa Presiden justru menunjukkan sikap yang sangat terbuka terhadap berbagai kritik serta masukan yang membangun dari masyarakat. "Presiden memandang kritik, termasuk pemberitaan mengenai sekolah yang mengalami kerusakan, sebagai masukan yang penting untuk diungkap. Berbagai temuan di lapangan menjadi perhatian pemerintah dan ditindaklanjuti melalui langkah-langkah perbaikan. Ini menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan dengan itikad baik menjadi bagian dari proses membangun Indonesia yang lebih baik," ujar Fifi di Jakarta, Senin.
Lebih lanjut, Fifi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melihat konteks secara menyeluruh dari pernyataan Presiden terkait istilah "londo ireng". Menurut penjelasan Fifi, pesan tersebut merupakan sebuah kiasan politik yang disampaikan bukan untuk menyudutkan profesi tertentu, kelompok masyarakat, maupun insan media.
"Yang disampaikan Presiden adalah ajakan untuk tetap waspada terhadap pihak-pihak yang sengaja merangkai narasi seolah-olah Indonesia tidak memiliki harapan dan tidak sedang bergerak maju. Kritik tentu diperlukan, tetapi berbeda dengan upaya membangun pesimisme secara sistematis," tegas Fifi.
Fifi menegaskan bahwa pemerintah senantiasa menghormati kebebasan pers, hak menyampaikan kritik dari masyarakat, serta peran aktif berbagai elemen bangsa sebagai pilar penting dalam demokrasi. Meski demikian, pemerintah juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga ruang publik agar tidak dipenuhi narasi negatif yang mengabaikan berbagai upaya penyelesaian nyata.
Sebagai penutup, Fifi menambahkan bahwa pemerintah akan terus memilih jalan kerja nyata sebagai jawaban utama atas setiap kritik yang disampaikan oleh publik. "Fokus pemerintah adalah menyelesaikan persoalan satu per satu, mempercepat perbaikan di lapangan, dan memastikan masyarakat merasakan manfaatnya. Ruang demokrasi tetap terbuka, tetapi mari bersama-sama menjaga agar kritik menjadi energi perbaikan," pungkasnya.