Google Ads yang sebelumnya dikenal sebagai Google AdWords merupakan platform periklanan online terkemuka yang dikembangkan oleh Google. Melalui sistem ini, para pengiklan dapat melakukan penawaran untuk menampilkan iklan digital singkat, penawaran layanan, daftar produk, hingga video kepada para pengguna internet di seluruh dunia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Layanan ini pertama kali diluncurkan oleh Google pada tahun 2000 dengan sistem pengelolaan awal yang diurus langsung oleh perusahaan. Seiring berjalannya waktu, Google memperkenalkan portal mandiri bagi usaha kecil serta melakukan berbagai akuisisi strategis seperti DoubleClick pada tahun 2005 untuk memperkuat teknologi penayangan iklan digital mereka.
Pada tahun 2018, Google resmi mengganti nama merek AdWords menjadi Google Ads guna menyederhanakan titik akses bagi para pengiklan. Platform ini menyediakan berbagai jenis kampanye seperti Search, Display, Shopping, Video, App, hingga Performance Max yang dirancang untuk menjangkau audiens secara lebih efektif melalui pemanfaatan kecerdasan buatan.
Kendati menjadi raksasa di industri periklanan digital, perjalanan Google Ads tidak lepas dari berbagai kontroversi dan sanksi hukum. Platform ini sempat menghadapi sejumlah tuntutan terkait pelanggaran merek dagang, penipuan klik, hingga denda antimonopoli dari regulator di berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Selain persoalan regulasi antimonopoli, Google Ads juga kerap disorot terkait penayangan iklan yang dinilai kontroversial, mulai dari isu disinformasi, kampanye perusahaan bahan bakar fosil, hingga eksploitasi oleh pihak tak bertanggung jawab untuk melancarkan aksi penipuan online. Meskipun demikian, Google terus memperketat sistem keamanan dan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk menyaring jutaan iklan bermasalah setiap tahunnya.