George Graham adalah nama yang tidak asing di dunia sepakbola Inggris, khususnya bagi para penggemar Arsenal. Pria kelahiran Bargeddie, Skotlandia, 30 November 1944 ini dikenal sebagai salah satu manajer tersukses dalam sejarah The Gunners. Julukannya adalah "Stroller" karena gaya bermainnya yang tenang dan elegan di atas lapangan. Kariernya di sepakbola dimulai sebagai pemain sebelum akhirnya mencatatkan nama sebagai arsitek kesuksesan Arsenal di era 1980-an dan 1990-an.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Graham tumbuh dalam kondisi ekonomi yang sulit setelah ayahnya meninggal dunia karena tuberkulosis dan gagal jantung saat dia baru berusia kurang dari sebulan. Ia dibesarkan oleh ibunya bersama enam saudara kandung lainnya di Coatbridge, Skotlandia. Bakat sepakbolanya sudah terlihat sejak usia muda sehingga ia mendapat tawaran dari Newcastle United, Chelsea, dan Aston Villa. Pada usia 15 tahun, ia memilih bergabung dengan Aston Villa karena keluarganya menyukai manajer Joe Mercer, dan ia menandatangani kontrak profesional pada tahun 1961.
Karier bermain Graham cukup berwarna. Ia memulai debut profesionalnya bersama Aston Villa namun hanya tampil dalam 10 pertandingan. Setelah itu, ia pindah ke Chelsea pada 1964 dengan nilai transfer 5.000 poundsterling dan berhasil mencetak 35 gol dalam 72 penampilan liga serta memenangkan Piala Liga pada 1965. Namun, hubungannya dengan manajer Tommy Docherty memburuk karena insiden pelanggaran jam malam yang membuatnya dihukum bersama tujuh pemain lainnya. Pada 1966, ia pindah ke Arsenal dengan nilai transfer 50.000 poundsterling plus Tommy Baldwin dan menjadi bagian penting dari skuat yang memenangkan double liga dan Piala FA pada 1971.
Sebagai pemain Arsenal, Graham mencatatkan 308 penampilan dan 77 gol. Ia juga sempat memperkuat Timnas Skotlandia dengan 12 caps dan tiga gol. Setelah meninggalkan Arsenal pada 1972, ia bermain untuk Manchester United, Portsmouth, Crystal Palace, dan bahkan sempat merumput di Amerika Serikat bersama California Surf pada 1978 sebelum akhirnya pensiun dan beralih ke dunia kepelatihan.
Karier kepelatihan Graham dimulai sebagai pelatih tim muda Crystal Palace dan Queens Park Rangers. Pada 1982, ia mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai manajer di Millwall yang saat itu terpuruk di dasar Divisi Ketiga. Dalam waktu singkat, ia berhasil menyelamatkan tim dari degradasi dan membawa mereka promosi ke Divisi Kedua pada 1985. Kesuksesannya menarik perhatian Arsenal yang saat itu sedang mencari manajer baru setelah Don Howe mengundurkan diri pada Maret 1986.
Graham resmi ditunjuk sebagai manajer Arsenal pada 14 Mei 1986. Ia langsung melakukan perombakan besar-besaran dengan menyingkirkan pemain senior seperti Paul Mariner dan Tony Woodcock, lalu mendatangkan pemain baru serta mempromosikan produk akademi. Disiplin ketat menjadi ciri khas kepemimpinannya, termasuk mewajibkan pemain mengenakan blazer klub pada hari pertandingan. Hasilnya langsung terlihat, Arsenal memuncaki klasemen pada Natal 1986 untuk pertama kalinya dalam satu dekade dan akhirnya memenangkan Piala Liga pada 1987.
Puncak kejayaan Graham terjadi pada 1989 ketika Arsenal merebut gelar liga pertama mereka sejak 1971 dengan cara dramatis di Anfield. Pada laga terakhir musim itu, Arsenal harus menang dengan selisih dua gol atas Liverpool untuk menjadi juara. Alan Smith mencetak gol pertama, dan di menit-menit akhir, Michael Thomas mencetak gol kedua yang mengguncang dunia sepakbola Inggris. Arsenal juara, dan Graham menjadi pahlawan bagi ribuan pendukung The Gunners. Dua tahun berselang, tepatnya pada 1991, Arsenal kembali menjadi juara liga setelah hanya kalah satu kali sepanjang musim.
Era Graham juga diwarnai dengan kesuksesan di ajang piala. Pada 1993, Arsenal menjadi tim pertama yang memenangkan ganda Piala FA dan Piala Liga setelah mengalahkan Sheffield Wednesday di kedua final. Musim berikutnya, 1994, Graham membawa Arsenal meraih trofi Eropa kedua sepanjang sejarah klub setelah mengalahkan Parma di final Piala Winners Eropa. Kemenangan 1-0 berkat gol Alan Smith menjadi bukti taktik defensif efektif yang diterapkan Graham.
Namun, karier gemilang Graham di Arsenal berakhir tragis pada 21 Februari 1995. Ia dipecat setelah terbukti menerima uang ilegal senilai 425.000 poundsterling dari agen Norwegia Rune Hauge terkait transfer John Jensen dan Pal Lydersen. Graham mengklaim uang itu sebagai "hadiah yang tidak diminta", namun Asosiasi Sepakbola Inggris tetap menjatuhkan sanksi larangan melatih selama satu tahun. Setelah skandal ini, julukan "bung" melekat dalam dunia sepakbola Inggris.
Setelah masa larangan berakhir, Graham kembali menangani Leeds United pada September 1996 dan berhasil membawa tim finis di peringkat 11 pada musim pertamanya. Pada 1998, ia kembali ke London untuk menangani Tottenham Hotspur dan langsung memenangkan Piala Liga pada 1999. Namun, hubungannya dengan manajemen Spurs memburuk dan ia dipecat pada Maret 2001 setelah mengeluhkan anggaran transfer terbatas kepada media. Sejak saat itu, ia tidak pernah kembali melatih dan lebih banyak menjadi komentator di televisi.
Kehidupan pribadi Graham juga menarik untuk disimak. Ia pernah menikah dengan model Marie Zia pada 1967 dan memiliki dua anak, namun pernikahan itu berakhir pada 1988. Kemudian pada 1998, ia menikah dengan Susan Schmidt dan kini tinggal di Hampstead, London. Di usianya yang kini sudah memasuki kepala delapan, Graham mengaku menderita arthritis dan sudah jarang bermain golf, namun ia masih aktif mengikuti perkembangan sepakbola. Meski kariernya diakhiri dengan kontroversi, George Graham tetap dikenang sebagai salah satu manajer terbaik yang pernah dimiliki Arsenal.