Gianni Infantino resmi kehilangan kepercayaan dari UEFA dan sejumlah konfederasi sepak bola dunia. Pemicunya adalah kegagalan presiden FIFA itu mewujudkan rencana kontroversial menjual saham Piala Dunia dan kompetisi lainnya yang akhirnya dibatalkan setelah mendapat kecaman luas. UEFA bahkan menuding Infantino menjalankan skema rahasia dan kesepakatan di balik layar yang merugikan sepak bola.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pernyataan keras UEFA yang dirilis Sabtu (1/8) menyebut Infantino gagal memenuhi janji transparansi saat kampanye pemilihan presiden FIFA pada 2016. "Kami tidak bisa terus seperti ini dengan skema rahasia dalam tenggat waktu kilat, dimasak oleh individu tanpa wajah dan manfaat yang meragukan bagi olahraga ini," tulis UEFA. Mereka menuntut pertanggungjawaban dan menegaskan bahwa kepemimpinan FIFA saat ini telah kehilangan kepercayaan tidak hanya dari UEFA tetapi juga banyak anggota keluarga sepak bola.
FA Inggris langsung mendukung pernyataan UEFA. "Kami sepenuhnya mendukung posisi UEFA. Saatnya untuk tinjauan penuh dan kuat atas kepemimpinan dan tata kelola FIFA," demikian pernyataan resmi mereka. Wali Kota Manchester, Andy Burnham, juga menyebut pembatalan rencana itu sebagai keputusan tepat dan sebelumnya telah menyebut Infantino sebagai "orang yang salah untuk memimpin organisasi."
Asosiasi sepak bola Belanda (KNVB) dan Jerman (DFB) ikut angkat bicara. KNVB menyatakan kasus ini telah menyebabkan pelanggaran mendasar terhadap kepercayaan pada kepemimpinan Infantino. Sementara presiden DFB, Bernd Neuendorf, menuding Infantino bertindak sepihak, tidak transparan, dan pada akhirnya tidak bertanggung jawab atas kepentingan terbaik sepak bola.
Krisis ini terjadi tepat setahun sebelum pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan Maret 2027 di Rabat. Meskipun Infantino telah mengantongi lebih dari 200 surat dukungan dari asosiasi anggota, dukungan itu bisa dicabut. Batas akhir pencalonan lawan adalah 18 November, dan beberapa nama mulai disebut-sebut sebagai calon potensial, termasuk presiden Concacaf Victor Montagliani dan presiden AFC Salman al-Khalifa yang pernah kalah tipis dari Infantino pada 2016.
UEFA dalam pernyataannya membandingkan janji lama Infantino dengan kenyataan saat ini. Sepuluh tahun lalu Infantino berjanji, "Uang FIFA adalah uang kalian. Bukan uang presiden FIFA," namun nyatanya ia gagal mewujudkan transparansi. Dengan cadangan dana FIFA yang mencapai lebih dari 5 miliar dolar AS, UEFA menilai Infantino gagal menggunakan uang asosiasi untuk kepentingan sepak bola.
Rencana yang dibatalkan itu sebenarnya akan menjual 20% saham perusahaan komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise kepada investor swasta. Infantino mengklaim langkah itu bisa meningkatkan pembayaran FIFA Forward dari 8 juta dolar AS menjadi 20 juta dolar AS per siklus empat tahun, ditambah bonus satu kali 20 juta dolar AS untuk asosiasi yang menandatangani kesepakatan sebelum 19 September. Skema ini dikritik sebagai sistem patronase untuk menjaga Infantino tetap berkuasa.
Concacaf juga mengeluarkan pernyataan setajam UEFA. Konfederasi Amerika Utara itu menilai proposal sebesar itu tidak muncul secara kebetulan, melainkan gejala kepemimpinan yang berhenti mengutamakan sepak bola. "FIFA bukan perusahaan swasta. Itu adalah badan yang dipercayakan untuk permainan dan anggotanya. Akuntabilitas tidak bisa menjadi pilihan," tegas Concacaf.
Satu-satunya dukungan terang-terangan untuk Infantino datang dari Asosiasi Sepak Bola Qatar. Presidennya, Sheikh Hamad bin Khalifa bin Ahmed Al Thani, menyambut baik keputusan pembatalan demi persatuan asosiasi anggota dan menyatakan dukungan penuh kepada Infantino untuk terus mengembangkan sepak bola global.
UEFA mengakhiri pernyataan dengan seruan perubahan: "Ini adalah kemenangan bagi seluruh sepak bola. Namun ini tidak boleh menjadi akhir cerita. Proposal telah gagal. Tugas membangun kembali kepercayaan pada FIFA baru saja dimulai." Mereka berjanji akan segera bekerja dengan mitra dan pemangku kepentingan untuk mengusulkan cara baru distribusi sumber daya melalui program FIFA Forward yang sudah ada.