Sebagaimana diwartakan oleh portalkaltim.com, Provinsi Kalimantan Timur mencatatkan peringkat kedua nasional dalam hal Tingkat Ketahanan Pangan. Namun, capaian tersebut dinilai masih semu lantaran sebagian besar pasokan pangan daerah masih bergantung pada pasokan dari luar wilayah.
Di tengah tingginya ketergantungan tersebut, kekayaan alam hutan lokal justru menjadi tumpuan utama bagi masyarakat adat untuk bertahan hidup secara mandiri. Pengetahuan mengenai pemanfaatan keanekaragaman hayati atau etnobotani ini menjadi kunci penting, meskipun kini terancam terdegradasi oleh perpindahan tempat tinggal.
Menanggapi fenomena itu, sekelompok mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) turun langsung ke lapangan. Dipimpin oleh Ade Yusuf Bahtiar bersama empat rekan mahasiswa dan didampingi dosen pembimbing Letus Sepsamli, mereka mengkaji tingkat pengetahuan etnobotani pangan di Kampung Adat Mului, Desa Swan Slutung, Kabupaten Paser.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Dalam penelitian ini, kami melakukan penelitian dengan gabungan kuantitatif dan kualitatif," ujar Ade Yusuf Bahtiar menjelaskan metode penelitian yang memadukan survei kuesioner pada 40 responden lintas generasi serta wawancara mendalam.
Anggota tim peneliti, Ahmad Salafudin Zikri, menambahkan bahwa pendekatan kualitatif dilakukan dengan tinggal langsung bersama warga untuk memahami pola pewarisan pengetahuan lokal. "Hasil pengamatan kami menunjukkan bahwa pewarisan pengetahuan sejauh ini masih terjadi melalui lisan dan pengalaman langsung saat orang tua mengajak anak-anaknya untuk berladang sejak kecil," ungkap Zikri.
Selain inventarisasi tanaman pangan mulai dari singkong hingga buah-buahan hutan, tim Unmul juga menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama perangkat Desa Swan Slutung.
Melalui riset ini, tim berharap strategi konservasi partisipatif dapat disusun agar kearifan lokal masyarakat Adat Mului tidak sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan terus dipraktikkan oleh generasi muda demi mewujudkan kedaulatan pangan wilayah.