Otak anjing menunjukkan pola aktivitas yang menyerupai kendali diri manusia ketika hewan tersebut mendengar kata larangan atau menghentikan suatu tindakan. Temuan ilmiah terbaru ini diuraikan secara mendalam dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Animal Cognition.
Kemampuan menghentikan tindakan dalam waktu singkat seringkali menjadi faktor penentu keselamatan hidup bagi berbagai makhluk hidup. Berbeda dengan respons ketakutan primitif pada hewan lain, upaya menahan diri pada manusia dan mamalia melibatkan fungsi lobus frontal sebagai pusat pengendali.
Para peneliti mengukur aktivitas saraf dari 14 ekor anjing menggunakan pemindaian elektroensefalografi (EEG) non-invasif yang menghasilkan total 226 rekaman. Melalui metode tersebut, tim peneliti mengamati lonjakan gelombang theta frontal yang identik dengan proses ketika manusia mengerahkan kontrol diri.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKoautor studi sekaligus etolog kognisi anjing di Eötvös Loránd University, Mártá Gácsii, menyatakan bahwa anjing hidup dan menua lebih cepat daripada manusia namun berada di lingkungan sosial yang sama. Kondisi ini membuat faktor perkembangan dan usia pada anjing dapat diteliti secara lebih efisien dibandingkan populasi manusia.
Potensi Penelitian Anjing untuk Memahami Kesehatan Manusia
Pengukuran korelasi EEG pada lobus frontal anjing membuka peluang besar untuk meneliti berbagai kondisi kesehatan pada manusia secara lebih mendalam. Tim peneliti menyebutkan bahwa pemahaman ini dapat membantu memperjelas gangguan seperti attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD serta obesitas.
Koautor studi Ivaylo Borislavov Iotchev mengungkapkan bahwa dalam situasi kendali diri, timnya mengobservasi aktivitas EEG yang sangat menyerupai gelombang theta manusia baik dari segi frekuensi maupun lokalisasi.
Sementara itu, etolog Akademi Ilmu Pengetahuan Hungaria Anna Kis menambahkan bahwa kegagalan fungsi lobus frontal pada manusia berperan besar dalam kemunculan ADHD serta penambahan berat badan yang tidak normal.
Melalui kemampuan mengukur aktivitas otak anjing ini, para ilmuwan berharap dapat mengekstrapolasi prediksi yang lebih akurat untuk memahami kondisi serupa pada manusia di masa mendatang.