Teleskop ruang angkasa Swift milik NASA dipastikan menghadapi akhir hayat dengan jatuh tak terkendali ke atmosfer Bumi sebelum tahun ini berakhir. Kegagalan tersebut terjadi menyusul keputusan badan antariksa Amerika Serikat untuk menyetop misi penyelamatan setelah pesawat penyelamat mengalami kendala teknis berat di orbit.
Berdasarkan laporan Daily Mail, NASA menggelontorkan dana senilai 30 juta dolar Amerika Serikat guna mengirimkan wahana khusus bernama Link buatan Katalyst Space. Pesawat robotik tersebut diluncurkan pada awal Juli untuk mendekati, mencengkeram, serta menaikkan orbit Neil Gehrels Swift Observatory ke posisi yang jauh lebih tinggi dan stabil.
Kendati demikian, masalah pelik langsung mendera wahana Link tatkala pesawat swasta itu mendadak berputar secara liar tanpa kendali hanya beberapa pekan usai lepas landas. Tim pengendali penerbangan sempat mengunggah perangkat lunak baru guna memperlambat putaran, namun gangguan kontrol sikap tersebut gagal diatasi sepenuhnya di orbit.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut analisis Kabayan News, proyek ambisius berdurasi pengerjaan singkat selama sembilan bulan ini sejak awal memang dikategorikan sebagai pertaruhan berisiko tinggi. Peningkatan aktivitas matahari mempercepat peluruhan orbit Swift secara drastis setelah beroperasi selama 21 tahun untuk mempelajari ledakan sinar gamma paling kuat di alam semesta.
Administrator NASA Jared Isaacman menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan keputusan strategis dalam mengambil risiko cerdas demi potensi imbal hasil yang besar bagi masa depan eksplorasi. Tim bergerak dengan kecepatan luar biasa untuk memberi kesempatan bagi teleskop Swift melanjutkan misi sains sekaligus menguji kapabilitas baru layanan satelit.
Kendati misi pendorongan orbit gagal total, wahana Link tetap dijadwalkan melanjutkan uji coba manuver mendekati Swift guna mengumpulkan data penting. Seluruh pelajaran berharga dari kegagalan ini bakal dimanfaatkan NASA untuk merancang teknologi pemeliharaan satelit di masa mendatang.