Teknologi ultrasound fokus non-invasif yang disetujui oleh FDA pada Januari 2026 kini menjadi angin segar bagi penderita Parkinson dalam mengatasi gejala tremor parah. Metode ini terbukti mampu menghentikan getaran tangan pasien dalam hitungan menit setelah prosedur dilakukan.
Bud Leavell, seorang pensiunan berusia 72 tahun asal Arlington, Texas, menjadi salah satu pasien yang merasakan langsung manfaat prosedur ini di UT Southwestern Medical Center. Sebelumnya, Leavell mengalami tremor hebat yang menghambat kegemarannya memperbaiki radio selama bertahun-tahun sejak diagnosis Parkinson pada 2017.
Neuroradiolog di UT Southwestern Medical Center, Dr. Bhavya Shah, menjelaskan cara kerja teknologi tersebut. Gelombang ultrasound berenergi tinggi difokuskan menembus tengkorak menuju target saraf spesifik di dalam otak untuk memanaskan serta menghilangkan kumpulan saraf yang menyebabkan aktivitas listrik penyebab tremor.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerbeda dengan metode deep brain stimulation yang memerlukan pembedahan atau pembukaan tempurung kepala, prosedur ini sepenuhnya non-invasif. Keunggulan lainnya, dokter dapat menggunakan ultrasound berenergi rendah terlebih dahulu untuk memastikan target otak merespons sebelum melakukan penghilangan jaringan secara permanen.
Risiko dan Keterbatasan Terapi Ultrasound
Meski menjanjikan, Dr. Shah mengingatkan adanya potensi efek samping yang muncul pada 20% hingga 30% pasien. Risiko tersebut mencakup sensasi mati rasa di sekitar mulut atau ujung jari, gangguan keseimbangan, kesulitan berjalan, berbicara, maupun menelan, namun umumnya membaik seiring berjalannya waktu.
Terdapat perbedaan mendasar jika dibandingkan dengan deep brain stimulation. Alat dalam metode stimulasi otak dapat disesuaikan kembali jika gejala memburuk, sementara teknologi ultrasound tidak menyertakan perangkat yang bisa diprogram ulang sehingga diperlukan prosedur tambahan jika gejala kembali muncul di masa depan.
Hingga saat ini, data jangka panjang mengenai efektivitas terapi ini masih terbatas mengingat teknologinya yang relatif baru. Pasien sangat disarankan melakukan diskusi mendalam dengan ahli saraf gangguan gerak untuk memahami kelebihan serta kekurangan sebelum memilih opsi pengobatan.
Bagi Leavell, kesempatan mencoba terapi inovatif ini merupakan langkah yang sangat berarti bagi kualitas hidupnya. Saat ini, ia sudah bisa kembali beraktivitas dengan normal, termasuk menekuni hobi lamanya memperbaiki radio antik tanpa gangguan tremor yang dulu menyulitkannya.