Wakil Presiden Gibran Rakabuming memberikan instruksi tegas kepada seluruh kementerian dan lembaga terkait untuk segera merespons dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi para petani serta nelayan. Arahan tersebut disampaikan saat membuka Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 yang berlangsung di Gorontalo, Sabtu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →"Mohon ini nanti Pak Menteri, Wamen, semua yang ada di sini, mohon untuk segera ditindaklanjuti. Tadi ada masalah irigasi, masalah solar, masalah dryer, RMU, dan masalah-masalah yang lain," ujar Wakil Presiden Gibran Rakabuming di GOR David Tony, Kabupaten Gorontalo.
Instruksi tersebut diberikan Wapres setelah mendengar langsung berbagai aspirasi dari perwakilan petani dan nelayan di lokasi. Sejumlah kendala operasional yang dikeluhkan meliputi perbaikan jaringan irigasi, pendangkalan pelabuhan, kelangkaan bahan bakar untuk nelayan, hingga keterbatasan sarana pascapanen seperti mesin pengering (dryer) dan rice milling unit (RMU).
Gibran menegaskan bahwa penanganan hambatan tata kelola ini sangat krusial mengingat petani dan nelayan adalah garda terdepan dalam mewujudkan kemandirian pangan. Terlebih lagi, ketahanan dan kemandirian pangan merupakan salah satu program prioritas utama dari Presiden Prabowo Subianto.
Ia menambahkan bahwa di tengah situasi global yang penuh tantangan, mulai dari konflik geopolitik hingga perang tarif dagang, Indonesia tidak boleh menggantungkan nasibnya pada negara lain. Oleh karena itu, perlindungan lahan pertanian, kemudahan akses modal, penyediaan bibit unggul, kepastian harga pasar, serta efisiensi distribusi pupuk bersubsidi harus menjadi perhatian utama.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa kebijakan penguatan sektor pangan telah memberikan dampak positif yang signifikan. Ia menyebutkan Indonesia berhasil mencatatkan kenaikan produksi pangan tertinggi kedua di dunia pada 2025, berada tepat di bawah Brasil.
Mentan juga membeberkan bahwa stok pangan nasional saat ini telah menyentuh angka 5,2 juta ton, yang menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Target capaian swasembada yang awalnya diproyeksikan memakan waktu empat tahun, berhasil diakselerasi hanya dalam waktu satu tahun berkat kolaborasi dan penyederhanaan sistem distribusi pupuk.
Sementara itu, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail melaporkan bahwa ajang PENAS XVII diikuti sekitar 13 ribu peserta yang datang dari berbagai pelosok Tanah Air. Besarnya antusiasme peserta dinilai menjadi bukti nyata komitmen bersama untuk menjaga status swasembada dan merealisasikan cita-cita Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.