Raksasa grosir berusia 87 tahun, Albertsons, kembali menutup sejumlah gerainya di berbagai wilayah Amerika Serikat sepanjang tahun 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi efisiensi di tengah persaingan harga yang kian ketat dengan pemain besar seperti Walmart, Amazon, dan Costco.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →CEO Albertsons, Susan Morris, mengungkapkan bahwa penutupan toko dilakukan setelah evaluasi mendalam terhadap profitabilitas masing-masing gerai. Dalam panggilan analis kuartal pertama, Morris menyatakan bahwa hanya toko yang benar-benar tidak menguntungkan yang akan ditutup. "Toko yang tidak menguntungkan jumlahnya sangat, sangat kecil. Di luar periode proses merger, disiplin kami sangat ketat," ujar Morris.
Kinerja keuangan Albertsons pada kuartal pertama memang mencatatkan hasil yang beragam. Meski masih mencetak laba bersih 85 juta dolar AS atau 0,17 dolar per saham, penjualan toko yang sama turun 0,8%. Sisi positifnya, penjualan digital melonjak 13% dan bisnis farmasi terus menunjukkan pertumbuhan kuat.
Morris mengakui bahwa tekanan berasal dari konsumen yang semakin berhati-hati dan tren industri yang melambat. "Di kuartal pertama, bisnis digital dan farmasi terus tumbuh kuat, sementara grosir inti menghadapi tekanan dari tren unit industri yang lebih lemah dan konsumen yang lebih berhati-hati," jelasnya.
Sebagai bagian dari restrukturisasi, Albertsons meluncurkan inisiatif bernama ACIEdge, yang menyederhanakan 11 divisi menjadi empat region dan memusatkan manajemen pusat dagang. Langkah ini diharapkan mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan akuntabilitas, dan memperkuat hubungan dengan pemasok.
Sejak 2025, Albertsons telah menutup sekitar 30 toko, dan penutupan lebih lanjut direncanakan pada 2026. Namun, Morris menegaskan tidak ada rencana penutupan massal. "Kami terus mengevaluasi basis toko kami dan memutuskan apakah akan mempertahankan, membalikkan profitabilitas, atau mengambil keputusan sulit untuk keluar. Kami belum melihat perubahan dramatis atau peningkatan profitabilitas toko saat ini," tambahnya.
Beberapa gerai yang sudah ditutup antara lain Safeway di Georgetown, Washington D.C., Hayward, California, dan Rainier Beach, Seattle. Juga Tom Thumb di Dallas dan Plano, Texas, Vons di Clairemont, San Diego, Pavilions di Mission Viejo, California, serta Safeway di Portland, Oregon.
Masalah harga menjadi tantangan terbesar. Studi Consumer Reports menunjukkan harga Albertsons 24,8% lebih tinggi dari Walmart. CEO Kroger, Greg Foran, juga mengakui kesenjangan harga dengan Walmart dan Costco, namun menegaskan perusahaannya tak perlu jadi yang termurah. "Kami perlu lebih kompetitif, konsisten, dan mudah dipahami pelanggan," ujar Foran.
Morris mengakui Albertsons tak bisa menjadi yang termurah. Namun, dia menekankan pentingnya investasi pada harga yang lebih tajam. "Ini tentang mempertajam harga di tingkat pelanggan dan pasar, baik melalui harga di lini depan maupun personalisasi," katanya.
Albertsons juga fokus pada produk private label dengan target penetrasi 30%. "Kami lebih yakin dari sebelumnya, terutama saat tim kami berhasil menekan biaya produk private label sehingga kami bisa menajamkan harga," ujar Morris.
CEO RTM Nexus, Dominick Miserandino, menilai rantai grosir regional menghadapi jalan terjal. "Konsumen lebih sadar harga dari sebelumnya, persaingan datang dari segala arah. Pengecer harus berinvestasi pada harga, teknologi, tenaga kerja, dan e-commerce secara bersamaan, dan dengan margin yang lebih tipis, itu tidak mudah," pungkasnya.