Pasar saham yang selama ini menjadi pilihan utama bagi para investor kini mulai ditinggalkan oleh generasi miliarder muda di Amerika Serikat. Mereka lebih memilih untuk menanamkan modal pada berbagai instrumen investasi alternatif di luar bursa saham konvensional yang dinilai lebih fluktuatif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan hasil survei dari Bank of America, individu berusia 21 hingga 43 tahun dengan kekayaan bersih minimal USD 3 juta hanya mengalokasikan sekitar 25 persen portofolio mereka ke dalam bentuk saham. Angka tersebut terpaut sangat jauh jika dibandingkan dengan investor berusia 44 tahun ke atas yang masih menempatkan hingga 55 persen aset mereka di pasar saham.
"Sebagian besar anak muda kaya raya berencana mengalokasikan porsi yang lebih besar ke instrumen alternatif dalam beberapa tahun ke depan," ungkap laporan dari lembaga keuangan tersebut.
Selain emas dan properti yang menjadi pelindung nilai terhadap inflasi, minat para miliarder muda ini juga merambah ke sektor aset digital seperti cryptocurrency serta karya seni rupa bernilai tinggi. Mereka menilai bahwa instrumen tradisional seperti saham dan obligasi saja tidak lagi cukup untuk memberikan hasil investasi di atas rata-rata.
Meski menawarkan potensi keuntungan yang menarik, para ahli keuangan tetap mengingatkan agar investor melakukan analisis mendalam sebelum masuk ke pasar alternatif yang cenderung memiliki likuiditas lebih rendah dan regulasi yang jauh lebih kompleks.