Angka kriminalitas di New York City diklaim mengalami penurunan dalam beberapa laporan utama. Meski demikian, komunitas bisnis di kota julukan Big Apple tersebut dinilai sengaja menutup mata dan hidup dalam fantasi demi mempertahankan citra kota yang aman bagi para pekerja dan pengusaha.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Para pemimpin kelas bisnis terus menggembar-gemborkan penurunan jenis kejahatan tertentu sebagai bukti keamanan kota. Faktanya, angka pembunuhan memang turun hampir 50 persen selama 16 tahun terakhir dan turun 34 persen dibandingkan dua tahun lalu. Kasus penembakan juga merosot sekitar 27 persen dari dua tahun lalu.
Namun, data tersebut tidak menggambarkan kondisi seutuhnya. Laporan terkait penganiayaan berat (felonious assault) justru melonjak hampir 77 persen dibandingkan 16 tahun lalu. Kejahatan di sektor transportasi umum (transit crime) juga terus meningkat, mencatat kenaikan 7 persen dari tahun 2010.
Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terlihat pada angka pemerkosaan yang naik 4,6 persen selama setahun terakhir dan kejahatan kebencian (hate crimes) yang meningkat lebih dari 6 persen. Seorang pengacara papan atas di Manhattan mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir, kasus pemerkosaan bahkan melonjak lebih dari 30 persen.
"Kota ini memiliki dua masalah mencolok, yakni epidemi pemerkosaan dan kejahatan kebencian atau antisemitisme kriminal. Ya, angka pembunuhan dan penembakan memang menurun drastis, tetapi angka-angka itu hanya menceritakan sebagian kecil dari kisah di lapangan," ujar sumber tersebut.
Langkah para bos menyuarakan narasi positif ini dinilai sebagai upaya membujuk agar perusahaan-perusahaan tidak melarikan diri ke daerah lain. Ketakutan akan eksodus kelas menengah dan kaum miliarder menjadi bayang-bayang nyata, mirip dengan krisis finansial New York pada era 1970-an yang dipicu oleh lonjakan kriminalitas ekstrem.
Di sisi lain, Steve Fulop selaku CEO Partnership for NYC membela tren tersebut. "Statistik kriminalitas tidak bergerak dalam garis lurus, tetapi tren multitahun tetap menguntungkan. Pembunuhan yang menjadi indikator paling serius dari tren keseluruhan telah turun," ungkap Steve Fulop.
Meskipun Komisaris NYPD Jessica Tisch dinilai telah bekerja keras di tengah berbagai hambatan regulasi setempat, angka-angka statistik tetap tidak bisa berbohong. Kondisi riil ini memicu pertanyaan besar bagi para pelaku usaha, apakah New York City masih sepadan dengan tingginya biaya dan risiko berbisnis di sana.