Tekanan berat yang melanda para investor Tesla (TSLA) kembali berlanjut setelah saham perusahaan kendaraan listrik tersebut mengalami penurunan signifikan usai laporan keuangan terbaru. Berdasarkan data Yahoo Finance AlphaSpace, kejatuhan harga ini membuat posisi saham Tesla menjadi yang paling oversold atau jenuh jual sejak Maret 2025 lalu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kondisi jenuh jual ini diukur melalui indikator Relative Strength Index (RSI), sebuah alat pengukur momentum kecepatan dan besarnya pergerakan harga saham dalam skala 0 hingga 100. Angka RSI di bawah 30 biasanya menunjukkan bahwa sebuah saham telah dijual secara berlebihan dan berpotensi mengalami rebound, sementara posisi RSI Tesla saat ini dilaporkan anjlok hingga menyentuh angka 14.
Aksi jual besar-besaran pada saham Tesla semakin intensif setelah para eksekutif perusahaan gagal memberikan pembaruan konkret terkait jadwal peluncuran Robotaxi maupun komersialisasi robot humanoid Optimus. Kekecewaan pasar ini kian memuncak menyusul perolehan laba perusahaan yang meleset jauh dari estimasi para analis di Wall Street.
Situasi tersebut membuat para pemegang saham mulai mempertanyakan kapan investasi besar-besaran Tesla pada teknologi kecerdasan buatan atau AI akan mulai membuahkan hasil nyata bagi perusahaan. Terlebih lagi, Tesla telah mengumumkan komitmen belanja modal sebesar USD 25 miliar untuk tahun 2026, yang nilainya mencapai tiga kali lipat dari pengeluaran historis mereka sebelumnya.
Analis Deutsche Bank, Edison Wu, mengungkapkan bahwa skala produksi Robotaxi dan Optimus tampaknya berjalan lebih lambat dari perkiraan awal pasar. "Kami rasa cukup jelas bahwa rantai pasokan Robotaxi dan terutama Optimus berkembang lebih lambat dari antisipasi sehingga mengecewakan pasar," ujar Wu dalam catatan terbarunya.
Selain masalah produksi, sentimen terhadap kecerdasan buatan fisik juga mulai meredup, ditambah spekulasi merger dengan SpaceX yang berpotensi memicu volatilitas tambahan bagi pergerakan harga saham Tesla di bursa. Para analis memperkirakan bahwa Tesla kini tengah memasuki periode sulit di mana perusahaan mungkin belum akan mencatatkan tonggak pencapaian signifikan hingga akhir tahun ini di tengah lonjakan pembakaran kas.