Raksasa teknologi asal Cupertino, Apple, kembali mencuri perhatian para pelaku pasar global. Di tengah tren perusahaan teknologi besar atau Big Tech yang gemar jorjoran menggelontorkan dana raksasa demi infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence, produsen iPhone ini justru melaju kencang dengan strategi belanja yang jauh lebih efisien.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan keuangan terbarunya untuk kuartal Juni, pendapatan Apple melonjak hingga 16 persen menjadi USD 109,4 miliar. Lonjakan fantastis ini didorong oleh kebangkitan penjualan iPhone sebesar 22 persen serta pertumbuhan lini Mac yang mencapai 29 persen. Tidak hanya itu, laba per saham juga turut terkerek naik 29 persen ke posisi USD 2,02, melampaui ekspektasi para analis di Wall Street.
Kondisi ini tentu sangat kontras jika dibandingkan dengan langkah kompetitor utamanya seperti Microsoft, Alphabet, Meta, dan Amazon. Perusahaan-perusahaan tersebut harus merogoh kocek hingga ratusan miliar dolar demi membangun pusat data, chip mutakhir, serta infrastruktur daya yang masif demi mendukung ambisi AI mereka.
Meski demikian, bukan berarti Apple sepenuhnya menutup keran investasi untuk teknologi masa depan tersebut. Anggaran riset dan pengembangan atau R and D perusahaan tercatat melonjak hingga 32 persen menjadi USD 11,7 miliar. Hanya saja, alih-alih membangun jaringan cloud publik raksasa dari nol, Apple memilih mengombinasikan pemrosesan langsung pada perangkat, server mandiri, serta kapasitas cloud pihak ketiga.
CEO Apple, Tim Cook, mengakui bahwa kehadiran fitur Siri berbasis kecerdasan buatan di masa depan berpotensi membuat perusahaannya lebih padat modal. Kendati demikian, manajemen menilai biaya serta potensi keuntungan yang bisa ditarik melalui peningkatan layanan iCloud berbayar masih terus dikalkulasikan secara matang.
Di sisi lain, tantangan finansial tetap mengintai di depan mata, terutama terkait lonjakan harga komponen memori global. "Kami sedang berada dalam apa yang saya sebut sebagai banjir besar selama seratus tahun pada harga memori," ungkap Tim Cook menyoroti tekanan biaya yang tengah dihadapi lini peranti keras mereka.