Camp David - Sebuah kecerobohan terjadi di sela-sela rapat kabinet di Camp David. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, ketahuan menyimpan rencana rahasia pembelian besar-besaran yen Jepang. Catatan "To Do" yang tertulis di buku catatannya terbaca jelas oleh fotografer Reuters, Jumat (31/7).
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Foto yang diambil dari balik bahu Bessent saat sesi terbuka untuk jurnalis menunjukkan sebuah notepad Camp David dengan kata bergaris bawah "To Do" diikuti tulisan "Buy Japanese Yen (JPY) $5-10 bil". Nama Bessent terpampang di meja konferensi, persis di atas notepad tersebut.
Yang menarik, notepad itu masih terlihat jelas di depan Bessent saat ia berbicara memuji presiden sekitar 30 menit kemudian. Reuters melaporkan foto diambil pukul 11.33 waktu setempat, dan rekaman video menunjukkan catatan itu tetap terbuka saat Bessent menyampaikan pidatonya.
Juru bicara Departemen Keuangan AS belum memberikan tanggapan terkait isi catatan atau kemungkinan intervensi untuk menopang yen. Namun, Financial Times melaporkan bahwa Federal Reserve Bank of New York telah menjual euro untuk membeli yen atas nama Departemen Keuangan AS.
Rencana pembelian ini muncul di tengah pelemahan tajam yen yang menyentuh level terendah sejak 1986. Bloomberg News menyebutkan sejumlah faktor pemicu, termasuk kenaikan harga minyak. Sebelumnya pada Jumat pagi, Reuters juga melaporkan bahwa Departemen Keuangan telah memberi tahu sejumlah bank tentang kemungkinan intervensi di pasar yen.
Pihak berwenang Jepang sendiri telah masuk pasar lebih awal pada Jumat untuk menopang yen, yang memicu penguatan signifikan pada jam perdagangan pagi. Namun, tampaknya ada penguatan besar lainnya pada sore hari, dengan data LSEG menunjukkan dolar turun dari sekitar 158,9 yen menjadi sekitar 157,6 yen, atau turun sekitar 0,8%.
Jika benar terjadi, ini akan menjadi intervensi pertama AS untuk menopang yen sejak 2011. Saat itu, AS bergabung dengan negara-negara G7 lainnya dalam aksi terkoordinasi setelah gempa bumi dan tsunami dahsyat melanda Jepang.