Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Bursa Saham Dunia Campur Aduk,...
INTERNASIONAL

Bursa Saham Dunia Campur Aduk, Investor Cemas Efek Utang AS dan Perang Iran

By Bambang Prasetyo 2 min read 21 Agustus 2026
Investor global mencermati pergerakan bursa saham di tengah ketidakpastian ekonomi akibat perang Iran dan kenaikan imbal hasil obligasi AS

Investor global mencermati pergerakan bursa saham di tengah ketidakpastian ekonomi akibat perang Iran dan kenaikan imbal hasil obligasi AS

Pasar saham global menunjukkan pergerakan yang variatif pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Sentimen pelaku pasar tertekan menyusul penurunan signifikan yang dialami Wall Street pada sesi sebelumnya, akibat kekhawatiran mendalam mengenai stabilitas ekonomi Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan Associated Press, upaya Departemen Keuangan AS untuk menenangkan pasar melalui rencana pembelian kembali utang pemerintah skala besar dinilai hanya memberikan efek sementara. Meskipun sempat menurunkan imbal hasil obligasi, angka tersebut kembali merangkak naik ke level yang mengkhawatirkan.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun kembali menguat ke level 4,69 persen, sementara obligasi 30 tahun naik ke angka 5,24 persen. Kondisi ini memicu sentimen negatif bagi investor karena kenaikan imbal hasil meningkatkan biaya pinjaman yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Di Asia, pergerakan indeks terpantau beragam. Nikkei 225 di Jepang melemah 0,3 persen, di mana negara tersebut juga menghadapi tekanan inflasi yang mencapai 1,9 persen akibat dampak kenaikan harga minyak dari konflik yang sedang berlangsung dengan Iran. Sebaliknya, indeks Kospi di Korea Selatan justru menguat 0,9 persen dan Hang Seng di Hong Kong naik 1,2 persen.

Sementara itu, harga minyak mentah internasional, Brent crude, terpantau turun 0,3 persen menjadi 93,45 dolar AS per barel. Meski ada ancaman ekonomi lebih lanjut dari Washington terhadap Tehran, harga minyak tetap berada di level tinggi dibandingkan sebelum pecahnya perang yang berada di kisaran 72 dolar AS per barel.

Sebagaimana dikutip dari laporan pasar, analis pasar menilai ketidakpastian geopolitik dan kebijakan fiskal AS akan terus mendominasi pergerakan pasar dalam waktu dekat. Para pelaku pasar kini memantau dengan seksama langkah lanjutan dari pihak berwenang dalam menangani tensi hubungan dengan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Topics
bursa saham ekonomi global wall street perang iran obligasi as inflasi harga minyak
Jurnalis Politik & Ekonomi Senior

Bambang telah menghabiskan dua dekade terakhir meliput dunia politik dan ekonomi Indonesia. Dari gedung DPR hingga Istana Negara, ia telah menyaksikan dan melaporkan peristiwa-peristiwa penting yang membentuk negeri ini. Tulisannya tajam, mendalam, dan selalu mengedepankan fakta serta analisis yang jernih bagi pembaca Kabayan News.