Perjalanan panjang Citigroup sebagai salah satu raksasa finansial dunia bermula dari pendirian City Bank of New York pada 1812 silam. Bank ini awalnya dibentuk untuk melayani kelompok pedagang di New York sebelum akhirnya berkembang pesat dan melakukan ekspansi global secara masif ke berbagai belahan dunia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Transformasi besar terjadi pada 1998 ketika Citicorp, perusahaan induk Citibank, bergabung dengan Travelers dalam sebuah aksi korporasi raksasa. Merger ini menyatukan layanan perbankan komersial dan asuransi, meski aturan hukum saat itu sempat menjadi tantangan tersendiri sebelum akhirnya regulasi disesuaikan.
Di balik kesuksesannya, bank berlogo payung merah ini juga pernah menghadapi badai besar saat krisis subprime mortgage melanda pada 2007 hingga 2008. Paparan aset berisiko tinggi membuat kondisi keuangan perusahaan terpuruk drastis hingga memaksa pemerintah Amerika Serikat turun tangan memberikan dana talangan.
Bantuan masif melalui program TARP menyelamatkan institusi tersebut dari kebangkrutan total dengan kompensasi kepemilikan saham oleh pemerintah. "Langkah penyelamatan ini diambil demi memperkuat sistem keuangan serta melindungi perekonomian secara luas," demikian penjelasan otoritas terkait saat itu.
Seiring berjalannya waktu, pihak manajemen berhasil memulihkan kondisi keuangan perusahaan secara bertahap melalui restrukturisasi dan penjualan aset non-inti. Pemerintah Amerika Serikat akhirnya melepas seluruh kepemilikan sahamnya pada akhir 2010 setelah seluruh dana darurat dilunasi secara penuh.
Kini, institusi keuangan yang berbasis di New York City tersebut tetap berdiri kokoh sebagai salah satu dari empat bank besar di Amerika Serikat. Fokus layanan mereka terbagi melalui divisi perbankan institusional serta pengelolaan kekayaan personal skala global.