Bagi yang mendalami sejarah ekonomi Asia, istilah zaibatsu tentu sudah tidak asing lagi. Istilah ini merujuk pada kelompok konglomerat industri dan keuangan vertikal di Kekaisaran Jepang yang memiliki pengaruh serta ukuran masif. Berkat kekuatan finansialnya yang besar, kelompok bisnis ini mampu memegang kendali atas sebagian besar sektor perekonomian Jepang sejak era Meiji hingga berakhirnya Perang Dunia II.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Struktur dasar dari sebuah zaibatsu umumnya melibatkan perusahaan induk milik keluarga di posisi puncak, serta bank internal yang mendanai berbagai anak perusahaan di bidang industri. Kelompok Empat Besar atau The Big Four yang terdiri dari Sumitomo, Mitsui, Mitsubishi, dan Yasuda merupakan contoh paling ikonik dari sistem ini. Sebagian besar dari mereka bahkan berakar sejak periode Edo hingga Restorasi Meiji, menjadikannya pilar utama industrialisasi nasional.
Kendati memegang peran penting dalam memajukan perekonomian dan modernisasi industri, keberadaan zaibatsu tidak lepas dari kontroversi. Hubungan erat mereka dengan pemerintah serta militer membuat kelompok ini sering dituding turut memuluskan langkah militerisme Jepang pada masa perang. Puncaknya, setelah Perang Dunia II berakhir, pasukan pendudukan Sekutu di bawah pimpinan Blok Sekutu mengambil tindakan tegas untuk membubarkan konglomerat-konglomerat raksasa tersebut.
Meskipun secara resmi telah dibubarkan dan bertransformasi menjadi sistem jaringan bisnis baru yang dikenal sebagai keiretsu, warisan pengaruh zaibatsu masih dapat dirasakan hingga kini. Banyak institusi keuangan, bank, dan perusahaan modern di Jepang saat ini yang merupakan evolusi langsung atau menggunakan akar nama dari kejayaan masa lalu kelompok bisnis legendaris tersebut.