Dunia kecerdasan buatan atau AI tidak bisa dilepaskan dari nama-nama besar yang mendedikasikan hidupnya untuk perkembangan teknologi, salah satunya adalah Steve Omohundro. Lahir pada tahun 1959, ilmuwan komputer asal Amerika Serikat ini telah lama malang melintang di berbagai bidang penelitian mulai dari fisika Hamiltonian, sistem dinamis, bahasa pemrograman, hingga implikasi sosial dari AI.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Perjalanan akademis Omohundro terbilang sangat cemerlang. Ia berhasil merampungkan gelar sarjana di bidang fisika dan matematika dari Stanford University dengan predikat Phi Beta Kappa. Tak berhenti di situ, ia kemudian melanjutkan studi doktoral dan sukses meraih gelar Ph.D di bidang fisika dari University of California, Berkeley.
Dalam dunia riset dan akademis, Omohundro pernah menjabat sebagai Asisten Profesor Ilmu Komputer di University of Illinois at Urbana-Champaign. Selama periode tersebut, ia turut membidani lahirnya Center for Complex Systems Research bersama tokoh-tokoh penting seperti Stephen Wolfram dan Norman Packard, serta ikut serta dalam pengembangan program matematika simbolik terkemuka, Mathematica.
Kontribusi Omohundro di dunia pemrograman juga sangat signifikan. Bersama Cliff Lasser di Thinking Machines Corporation, ia mengembangkan Star Lisp yang merupakan bahasa pemrograman pertama untuk Connection Machine. Selain itu, ia juga memimpin pengembangan bahasa pemrograman open-source bernama Sather saat bergabung dengan International Computer Science Institute di Berkeley.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian Omohundro banyak tersedot pada isu keamanan kecerdasan buatan dan pengembangan sistem yang mandiri. Melalui perannya sebagai penasihat di Machine Intelligence Research Institute, ia aktif mengingatkan publik mengenai tantangan etis dan dorongan natural dari sistem rasional. "Sistem otonom memerlukan pengawasan ketat karena tekanan militer dan ekonomi memicu perlombaan senjata otonom yang masif," ungkapnya dalam berbagai kesempatan diskusi global.