Ketegangan geopolitik di jalur perdagangan global kembali memanas setelah ancaman keamanan memaksa aktivitas pelayaran internasional mengambil langkah antisipasi. Sebanyak enam kapal tanker minyak milik Arab Saudi dilaporkan memilih untuk menjauhi kawasan selat Bab el-Mandeb di Laut Merah dan memulai perjalanan yang tidak biasa dengan mengelilingi benua Afrika.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan data pelacakan kapal terkini, langkah ini diambil menyusul meningkatnya gangguan keamanan akibat ancaman dari kelompok Houthi yang terus menghantui jalur pelayaran strategis tersebut. Dua kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau Very Large Crude Carrier yang dalam kondisi kosong, yakni Hazm dan Dilam, terpantau memberi sinyal menuju Gibraltar sebagai pusat utama pengisian bahan bakar di Laut Mediterania.
Sementara itu, empat armada tanker lainnya yang masing-masing bernama Ghinah, Laynah, Salam, dan Burqan juga terpantau mengambil rute berbeda. Kapal-kapal tersebut mengarah ke Durban serta Teluk Algoa di Afrika Selatan yang selama ini dikenal sebagai titik transit utama bagi kapal-kapal komersial yang melakukan pelayaran lintas benua.
Menghadapi situasi yang kurang kondusif di perairan Laut Merah, langkah taktis turut diambil oleh Arab Saudi dalam mengamankan pasokan energinya. Kerajaan tersebut mengalihkan sebagian aliran ekspor minyak mentah menuju kawasan Asia, memanfaatkan pelabuhan ekspor Yanbu di Laut Merah menuju Sidi Kerir di Mesir yang terletak di pesisir Laut Mediterania.
Selain melakukan pengalihan jalur pipa, pihak kerajaan juga dikabarkan tengah menjajaki berbagai mekanisme penetapan harga yang baru bagi para pembeli untuk mengambil komoditas minyak. Langkah ini menjadi bukti nyata bagaimana eskalasi keamanan di kawasan maritim internasional berdampak langsung pada efisiensi biaya dan rantai pasok energi global.