Jakarta - Apple kembali jadi sorotan setelah mengakui tengah mengevaluasi pemasok memori dari China, termasuk CXMT untuk DRAM dan YMTC untuk NAND. Langkah ini diambil di tengah melonjaknya harga komponen memori yang terus membebani biaya produksi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dalam panggilan earnings terbaru, Apple mengungkapkan harga memori terus meroket. CFO Apple menyebut perusahaan membayar lebih mahal di kuartal Maret dibanding Desember, dan diperkirakan akan semakin tinggi di kuartal September. "Kami mengevaluasi berbagai sumber pasokan. Ini akan membantu kami di sisi suplai dan mungkin juga harga," demikian pernyataan eksekutif Apple dikutip dari laporan Wccftech.
Rencana Apple menjalin kerja sama dengan CXMT dan YMTC ternyata memicu gelombang penolakan dari kalangan politisi AS. Senator Jim Banks dan Chuck Schumer memimpin tekanan agar Apple membatalkan negosiasi dengan kedua perusahaan China tersebut, bahkan untuk produk yang hanya dijual di China.
CXMT dan YMTC saat ini masuk dalam daftar hitam perusahaan militer China yang dikeluarkan Pentagon. YMTC bahkan sebelumnya sudah terkena sanksi perdagangan AS karena dianggap terkait dengan militer China.
Menurut laporan Financial Times, Apple bahkan sempat melobi pemerintahan Trump untuk mendapatkan izin membeli DRAM dari CXMT. Bloomberg juga mengabarkan Apple bekerja sama dengan pemerintahan Trump untuk meminimalkan dampak politik jika akhirnya memakai memori dari CXMT dan YMTC.
Meski mendapat tentangan keras, Apple tampaknya tidak bergeming. Perusahaan menegaskan akan terus mengevaluasi semua opsi untuk mengamankan pasokan memori, termasuk dari China. Namun Apple memastikan memori dari pemasok China hanya akan digunakan untuk produk yang dijual di pasar China.
Para senator AS memberi tenggat waktu hingga 21 Agustus bagi Apple untuk berkomitmen membatalkan rencana ini dan mengungkap semua informasi teknis yang mungkin telah dibagikan ke CXMT dan YMTC. Konflik ini menjadi ujian baru bagi Apple di tengah ketegangan dagang AS-China yang terus memanas.