Dikutip dari laporan RRI.co.id, canting kecil di tangan seorang pembatik bernama Pita bergerak perlahan di atas selembar kain putih sepanjang dua meter. Ia menorehkan malam mengikuti pola garis demi garis dengan tingkat ketelitian tinggi yang tidak bisa diselesaikan dalam hitungan jam.
Sebagaimana diwartakan, satu kain batik tulis membutuhkan waktu pengerjaan selama empat hingga lima hari untuk menyelesaikan motif tertentu. Proses manual yang panjang inilah yang membuat batik tulis harus berhadapan dengan tantangan besar di pasaran akibat gempuran batik print.
Meskipun batik print menawarkan proses produksi yang jauh lebih cepat serta harga relatif murah, Griya Batik Olive memilih untuk tetap konsisten mempertahankan tradisi membatik tulis. Menurut pemilik Griya Batik Olive, Iwan Achmad Irawan, langkah tersebut diambil karena mereka memiliki segmen pasar tersendiri yang menghargai keaslian.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan laporan, produk batik tulis dibanderol dengan variasi harga mulai dari Rp150 ribu hingga mencapai sekitar Rp4 juta untuk kualitas eksklusif. Kalangan konsumen kelas atas dari Jakarta justru kerap memburu produk dengan karakter unik dan harga tinggi tersebut.
Selain mempertahankan teknik tulis tradisional, usaha ini juga memperkuat ciri khas melalui penggunaan pewarna alam yang berasal dari daun mangga, daun mahoni, serta kulit mahoni. Guna memperluas jangkauan pasar, produk buatan mereka bahkan telah melanglang buana ke berbagai pameran internasional di Amerika Serikat, Jepang, Jerman, hingga Rusia.