Elon Musk, orang terkaya di dunia versi Forbes, kembali membuat pernyataan mengejutkan. Kali ini ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat terancam bangkrut total jika tidak segera mengadopsi teknologi artificial intelligence (AI) dan robot secara masif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pernyataan itu disampaikan Musk dalam wawancara di "Dwarkesh Podcast" pada 5 Februari lalu. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap utang nasional AS yang kian membengkak, bahkan pembayaran bunga utang kini telah melampaui anggaran militer.
"Kami 1.000 persen akan bangkrut sebagai negara dan gagal tanpa AI dan robot," ujar Musk dengan tegas. "Tidak ada yang lain yang bisa menyelesaikan masalah utang nasional."
Menurutnya, AI dan robot adalah satu-satunya solusi yang mampu menyelamatkan perekonomian AS dari kehancuran. Musk yang juga menjabat di Department of Government Efficiency (DOGE) mengaku bergabung untuk memperlambat proses kebangkrutan tersebut.
Selain soal utang, Musk juga menyoroti risiko pelemahan mata uang akibat persaingan AI. Ia menilai negara-negara seperti AS dan China akan terus mencetak uang fiat untuk membiayai perlombaan teknologi, yang berujung pada penurunan nilai mata uang.
Di tengah kekhawatiran itu, Musk justru memuji Bitcoin. Ia menyebut Bitcoin tidak bisa dipalsukan karena berbasis energi, berbeda dengan uang fiat yang dianggapnya "palsu" dan tidak terbatas pasokannya.
Data menunjukkan Tesla masih memegang 11.509 Bitcoin di neraca keuangannya, sementara SpaceX memiliki 18.712 Bitcoin. Saat berita ini diturunkan, harga Bitcoin berada di kisaran USD 63.149.
Peringatan keras Musk ini menjadi sorotan, mengingat ia dikenal sebagai sosok yang berani mengambil risiko, termasuk menyimpan aset kripto di dua perusahaan besarnya. Namun kali ini, risiko yang ia maksud bukanlah investasi, melainkan kelangsungan hidup negara adidaya tersebut.