Konsumsi listrik China mencapai lebih dari 10 triliun kWh pada 2025, melampaui dua kali lipat total konsumsi energi Amerika Serikat. Untuk memenuhi kebutuhan masif tersebut, China menggenjot investasi besar-besaran pada sektor energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya dan angin.
Berdasarkan laporan Ember Energy, pertumbuhan pembangkit listrik batu bara di China tertahan di lebih dari separuh wilayah negara untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir. Fenomena ini terjadi bukan karena penurunan permintaan listrik secara keseluruhan, melainkan kecepatan proyek energi terbarukan yang berhasil menekan permintaan listrik fosil.
Sektor industri di China secara agresif mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, termasuk bidang yang sebelumnya sulit bertransformasi seperti peleburan logam dan produksi petrokimia. Selain itu, pangsa pasar mobil listrik di China telah melewati angka 50 persen pada 2025, jauh meninggalkan Amerika Serikat yang baru mencapai sekitar 10 persen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKeberhasilan transisi ini didukung oleh investasi masif pada infrastruktur penyimpanan baterai guna menjaga kestabilan pasokan listrik dari tenaga surya dan angin yang fluktuatif. Berdasarkan data IEA, permintaan listrik di China diproyeksikan tumbuh di bawah 5 persen setiap tahunnya hingga 2030.
Puncak Emisi dan Tantangan Transisi Energi China
Meskipun mulai melambat, China masih memegang rekor sebagai negara dengan jumlah pembangkit listrik tenaga batu bara terbanyak di dunia. Data IEA mencatat emisi dari pembakaran batu bara di China sempat melonjak hingga 248 persen pada periode 2000 sampai 2023.
Kendati demikian, sejumlah sektor industri mencatatkan penurunan konsumsi bahan bakar fosil hingga lebih dari 66 persen dari titik tertingginya, seperti industri tekstil, permesinan, hingga sektor ekstraksi bahan bakar fosil itu sendiri.
Di sisi lain, industri elektronik dan pengolahan mineral di China terpantau masih mencatatkan peningkatan penggunaan daya dari bahan bakar fosil. Keberhasilan penggantian total pembangkit fosil sangat bergantung pada kecepatan pembangunan infrastruktur energi terbarukan di masa depan.
Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di China sempat melambat pada paruh pertama 2026, namun ekspor teknologi energi terbarukan justru mencatatkan peningkatan signifikan. Sektor ekspor hijau ini kini menjadi motor penggerak ekonomi baru yang menjaga komitmen transisi energi tetap kuat di tengah dominasi batu bara.