Fenomena hikikomori atau menarik diri dari kehidupan sosial dan pendidikan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kini menjadi sorotan di Singapura. Isu ini bukan sekadar bentuk kemalasan, melainkan respons ketakutan mendalam dan kecemasan ekstrem yang dialami oleh sebagian anak muda.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan data dari Fei Yue Community Services, jumlah kasus yang ditangani melonjak tajam dari 20 kasus menjadi 111 kasus dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Peningkatan ini mencerminkan betapa rentannya kondisi mental generasi muda di tengah kompleksitas dunia modern.
Salah satu kisah yang mencuat adalah pengalaman Danzel Panniachelvam yang mulai menutup diri sejak duduk di bangku sekolah dasar akibat menjadi korban perundungan. Memasuki usia remaja, dunianya menyusut hanya sebatas kamar tidur di flat keluarganya, menghabiskan hari dengan bermain gim dan menghindari kontak luar.
"Dia tidak ingin melihat siapapun. Diagnosis dokter adalah depresi berat, dia takut keluar rumah," ujar ibunya, Aludia Cabigunda Panniachelvam, menggambarkan kondisi sang anak yang bahkan harus menjalani fisioterapi akibat otot melemah.
Pendekatan kepada para remaja ini membutuhkan kesabaran luar biasa dari para pekerja sosial. Tan Yang Hong, seorang petugas kasus, harus secara konsisten mendatangi rumah Danzel setiap dua pekan sekali selama enam bulan penuh untuk membangun kepercayaan secara perlahan.
Tantangan serupa dirasakan oleh keluarga Chuah yang menghadapi putranya, John, yang mengurung diri di kamar sejak akhir tahun 2023. Remaja berusia 15 tahun tersebut hanya keluar saat malam hari ketika rumah sudah sepi, menyisakan kecemasan dan kebingungan mendalam bagi kedua orang tuanya.
"Semua hal adalah tebakan demi tebakan," ungkap ayah John, Chuah Soon Ann, yang sempat merasa putus asa ketika mendapati sedikitnya opsi penanganan medis bagi kondisi putranya sebelum akhirnya menemukan kelompok dukungan sesama orang tua.
Meskipun pemulihan berjalan lambat dan penuh kemunduran, para penyintas mulai menunjukkan titik terang melalui langkah-langkah kecil. Sebagian dari mereka mulai berani keluar rumah ditemani pendamping, mengikuti program kesetaraan pendidikan, hingga mengekspresikan diri lewat karya seni untuk kembali menatap masa depan.