Di usianya yang menginjak 25 tahun, Nay Chi Khaing Zaw harus menjalani hari-hari yang tidak biasa. Ia hidup berdampingan dengan rasa sakit kronis akibat berbagai kondisi medis kompleks yang dialaminya sejak remaja.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Bagi Nay Chi, rasa sakit bukanlah hal asing yang datang sesekali, melainkan bagian dari kesehariannya. Ia harus berjuang melawan lupus, fibromialgia, migrain hemiplegik, hipermobilitas, hingga gangguan pencernaan yang kerap memicu serangan mendadak.
Kondisi tersebut membuat tubuhnya sering kali memberikan reaksi ekstrem, mulai dari nyeri otot yang luar biasa hingga serangan kejang. "Saya mengalami kejang yang terjadi dari waktu ke waktu," ujar Nay Chi menggambarkan kondisinya.
Dampak dari penyakit ini membuatnya terpaksa merelakan mimpinya di bidang keperawatan. Ia harus keluar dari sekolah keperawatan dan kesulitan mempertahankan pekerjaan penuh waktu dengan sistem sembilan hingga lima karena keterbatasan fisiknya.
Tidak hanya berjuang melawan rasa sakit fisik, ia juga menghadapi tantangan psikologis dan sosial. Dahulu, ia sempat dianggap berpura-pura sakit oleh orang sekitar karena gejalanya yang tidak kasat mata dan sulit didiagnosis oleh tenaga medis.
Setelah bertahun-tahun mencari jawaban medis yang tepat, ia akhirnya mendapati diagnosis akurat untuk migrain hemiplegiknya pada tahun 2024. Pengalaman panjang tersebut mengubah pandangannya dalam menghadapi stigma masyarakat.
Kini, prioritas utama Nay Chi adalah mencapai stabilitas keuangan dan hidup mandiri terlepas dari keluarganya. Ia memilih jalur freelance sebagai seniman dan mulai tinggal terpisah bersama seorang temannya untuk melatih kemandirian.
"Saya telah menerima kenyataan bahwa rasa sakit dan kondisi saya mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya, tetapi saya tidak ingin itu menghentikan saya untuk merangkul kehidupan," ungkapnya penuh semangat.