Memperbaiki hubungan dengan anak maupun anggota keluarga setelah bertahun-tahun mendekam di balik jeruji besi bukanlah perkara mudah bagi para mantan narapidana. Proses panjang yang penuh liku ini seringkali memakan waktu bertahun-tahun untuk bisa kembali merajut keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kisah tersebut salah satunya dialami oleh Samsiah Samsudin yang harus terpisah dari anak-anaknya saat menjalani hukuman penjara akibat kasus narkotika. Ketika bebas pada tahun 2019, ia harus menghadapi kenyataan pahit berupa renggangnya hubungan dengan anak ketiganya yang menyimpan rasa kecewa mendalam.
"Dia adalah seorang remaja, jadi dia cenderung memberontak dan mengatakan bahwa saya telah meninggalkannya," ungkap Samsiah mengenang masa-masa sulit saat pertama kali mencoba mendekati anaknya kembali.
Berbagai lembaga pelayanan sosial kemudian hadir memberikan pendampingan psikologis serta program pemulihan bagi para mantan narapidana perempuan. Melalui kelompok dukungan dan bimbingan yang ada, mereka perlahan belajar mengelola konflik serta memulihkan rasa percaya diri sebagai orang tua.
Para ahli psikologi dan sosial mengungkapkan bahwa penahanan seorang anggota keluarga tidak hanya berdampak pada hilangnya pencari nafkah, tetapi juga memicu tekanan finansial serta stigma sosial. Situasi ini sering kali membuat keluarga terdekat membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa menerima kehadiran kembali mantan narapidana di tengah-tengah mereka.
Di sisi lain, keterbatasan fasilitas komunikasi di dalam lembaga pemasyarakatan seperti aturan pengiriman surat elektronik dan kunjungan tatap muka yang terbatas menjadi tantangan tersendiri. Kendati demikian, berbagai program inovatif kini terus dikembangkan untuk membantu menjaga ikatan emosional antara orang tua dan anak selama masa hukuman.
Upaya pembinaan dini yang melibatkan keluarga terbukti mampu menekan risiko residivisme sekaligus memberikan lingkungan yang lebih stabil bagi anak-anak. Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, para mantan narapidana kini memiliki harapan baru untuk bangkit dan membuktikan diri sebagai orang tua yang bertanggung jawab.