Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Poliamori dan Keluarga, Bolehkah...
BERITA

Poliamori dan Keluarga, Bolehkah Minta Pasangan Setia

By Redaksi Kabayan News • 4 min read • 31 Juli 2026
Ilustrasi pasangan poliamori duduk berdiskusi dengan latar belakang tanda tanya besar

Ilustrasi pasangan poliamori duduk berdiskusi dengan latar belakang tanda tanya besar

Seorang perempuan berusia enam tahun menjalin hubungan poliamori kini berada di persimpangan jalan. Ia ingin menikah dan memiliki anak, namun meminta pasangannya mengurangi hubungan romantis dengan orang lain. Permintaan itu ditolak dengan alasan filosofis: "tidak ada yang bisa berjanji selamanya".

Dalam surat pembaca yang dipublikasikan di The Guardian, perempuan itu mengaku hubungannya selama ini indah. Namun keinginan untuk berkeluarga membuatnya ingin batasan lebih ketat, mengingat kehamilan akan membuatnya rentan secara fisik dan emosional. Ia bahkan rela menghentikan "promiskuitas" demi keharmonisan masa depan.

Pasangannya bersikukuh menolak komitmen eksklusif. Ia menyebut perempuan itu adalah "soulmate", namun meyakini bahwa setiap orang bisa memiliki banyak soulmate. "Tidak ada yang bisa menjanjikan apapun selamanya," begitu filosofinya, seperti dikutip dari surat pembaca.

Ketika perempuan itu mengusulkan agar mereka tidak lagi menjadi pasangan primary agar ia bisa mencari seseorang yang mau memberikan kepastian, pasangannya menolak keras dan memintanya tidak memutuskan nasib hubungan tanpa melibatkannya.

Ia juga mengatakan bahwa keraguan sang perempuan "membunuh hatinya" dan menganggap permintaan batasan hanya sebagai "blip" dalam kepercayaan diri. Namun perempuan itu justru semakin tersiksa melihat pasangannya menjalin hubungan baru yang penuh gairah, sementara mereka seharusnya fokus membangun masa depan bersama.

Kolumnis Eleanor Gordon-Smith merespons dengan tajam. Ia menyebut argumen pasangan itu sebagai "filosofi paling menyebalkan: sophistry, pertunjukan sulap jalanan yang membuat Anda bertanya-tanya kapan orang itu cukup dekat untuk mengambil dompet Anda".

Eleanor menjelaskan bahwa janji bukanlah prediksi. "Janji bukan berarti saya tahu saya akan melakukannya, tapi saya bertekad untuk melakukannya. Itulah yang Anda minta, dan itulah yang ditolaknya," tulis Eleanor.

Eleanor juga mempertanyakan inkonsistensi pasangan: jika ia meyakini tak ada yang bisa berjanji selamanya, mengapa ia "terbunuh" saat perempuan itu mengungkapkan keraguan? Mengapa ia dilarang merasa yakin, sementara sang perempuan dilarang merasa ragu?

Selain itu, Eleanor mengangkat konsep "free riding" di mana pasangan itu menikmati keuntungan dari pengorbanan sang perempuan - mengandung anak, menahan diri dari hubungan primary lain - tanpa memberikan kompensasi setimpal. "Apakah ia menuai manfaat dari pengorbanan Anda tanpa berkontribusi apa pun sebagai imbalan?" tanya Eleanor.

Poliamori sejatinya tentang kelimpahan, bukan permainan zero-sum. Namun saat seseorang merespons ketakutan pasangannya dengan menyebutnya tidak rasional, ia justru mengubahnya menjadi zero-sum lagi. "Jika Anda ingin lebih banyak kebebasan, pasangan Anda justru kehilangan rasa aman," jelas Eleanor.

Eleanor menyarankan sang perempuan untuk mendengarkan tubuh dan hatinya. Pernikahan dan anak adalah pengaturan hukum permanen dengan konsekuensi abadi. "Jika pengadilan menganggap 50 persen hak asuh tidak baik untuk anak, ia tidak akan memberikannya. Jika ia mengingkari janji berbagi beban, janjinya tidak akan membuat Anda bisa menegakkannya," pungkas Eleanor.

Topics
poliamori hubungan terbuka pernikahan memiliki anak kecemburuan komitmen hubungan eleanor gordon-smith filosofi hubungan pasangan primary keluarga
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.