Selama bertahun-tahun, kemajuan teknologi digital seperti telepon pintar dan media sosial kerap dinilai menjadi penyebab utama terputusnya interaksi manusia dengan dunia fisik serta sesama. Berbagai perangkat canggih tersebut dirancang untuk menyedot perhatian, memicu kecanduan, hingga menyita waktu istirahat masyarakat dari berbagai kalangan usia.
Berdasarkan laporan opini yang dimuat majalah TIME, kritikus teknologi Ian Bogost mengungkapkan bahwa dampak tersembunyi dari disrupsi digital ini adalah hilangnya kepekaan terhadap hal-hal kecil dan sensorik dalam kehidupan sehari-hari yang memberikan rasa kepuasan batin.
Kini, kehadiran teknologi kecerdasan buatan generatif atau generative AI dikhawatirkan memperparah fenomena dematerialisasi tersebut. Layanan seperti ChatGPT, Claude, hingga Gemini semakin mendominasi rutinitas harian dengan mengambil alih tugas-tugas manusia secara instan dan otomatis.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKendati demikian, di balik berbagai kekhawatiran tersebut, teknologi AI ternyata menyimpan potensi yang berlawanan. Sebagaimana diwartakan dalam kolom opini tersebut, AI justru terbukti ampuh dalam memandu manusia untuk kembali beraktivitas di dunia nyata.
Sebagai contoh, model bahasa besar atau LLM terbukti sangat handal dalam membantu menyelesaikan masalah praktis di dunia fisik, seperti memperbaiki pipa bocor, merawat kendaraan, atau mempelajari hobi baru yang melibatkan keterampilan tangan secara langsung.
Dalam pengalaman pribadinya, penulis mendapati bahwa kecerdasan buatan mampu memberikan panduan teknis yang spesifik dan solutif ketika ia menghadapi kerusakan alat rumah tangga, jauh lebih cepat dibandingkan harus menelusuri forum diskusi daring yang panjang.
Tidak seperti platform media sosial yang sengaja menjebak penggunanya dalam lingkaran adiksi tanpa ujung, layanan berbasis AI dapat dimanfaatkan secara fungsional dan cepat. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, pengguna didorong untuk segera menutup layar gawai dan kembali beraktivitas secara fisik.
Masa depan perkembangan kecerdasan buatan memang masih menyimpan ketidakpastian, terutama jika terjebak dalam model bisnis yang berbasis iklan. Namun, jika dimanfaatkan secara tepat, teknologi ini memiliki peluang besar untuk memperbaiki hubungan manusia dengan dunia luar yang sempat hilang.