Deteksi dini serta akses layanan kesehatan yang lebih baik menjadi kunci utama untuk menangani gangguan irama jantung atau atrial fibrillation (AFib) yang kini kian marak di kawasan Asia Pasifik. Kondisi ini sering kali diabaikan karena gejalanya yang tampak sepele, seperti detak jantung cepat, sesak napas ringan, hingga penurunan energi secara tiba-tiba.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Padahal, jika dibiarkan tanpa penanganan tepat, AFib dapat memicu risiko komplikasi serius mulai dari stroke, gagal jantung, hingga kematian dini. Menurut Chief Medical Officer Boston Scientific wilayah Asia-Pasifik Dr Ahmed Abdelaal, peningkatan kasus ini didorong oleh populasi yang semakin menua serta tingginya faktor risiko kardiovaskular seperti hipertensi, obesitas, dan diabetes.
Berdasarkan laporan terbaru berjudul PFA in APAC, from Promise to Practice yang dirilis oleh Boston Scientific, penanganan yang cepat dan tepat waktu sangat dibutuhkan oleh pasien. Laporan tersebut menyoroti pentingnya diagnosis awal, rujukan yang tepat waktu, serta akses terhadap teknologi medis terbaru untuk memaksimalkan efektivitas perawatan jantung.
Salah satu inovasi medis yang menjadi sorotan dalam laporan itu adalah pulsed field ablation (PFA). Teknologi ini memanfaatkan pulsa listrik singkat untuk menargetkan jaringan jantung yang memicu irama abnormal, menawarkan efektivitas setara metode konvensional dengan waktu prosedur yang lebih singkat serta profil keamanan yang lebih baik terhadap jaringan sekitar.
Kendati demikian, tantangan terbesar saat ini terletak pada kecepatan adopsi teknologi yang belum sejalan dengan tingkat kepercayaan tenaga medis. Berdasarkan survei, sekitar 92 persen elektrofisiolog memperkirakan PFA akan menjadi metode pilihan utama dalam dua tahun, namun baru 26 persen yang menggunakannya untuk sebagian besar kasus ablasi AFib.
Selain adopsi teknologi, faktor waktu rujukan juga menjadi sorotan utama dalam laporan tersebut. Sekitar 81 persen dokter spesialis mencatat bahwa pasien umumnya baru dirujuk untuk tindakan ablasi setelah mengalami beberapa kali kekambuhan, padahal penanganan yang dilakukan dalam kurun waktu satu tahun sejak diagnosis terbukti memberikan tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi.
Untuk mengatasi tantangan ini, perbaikan layanan kesehatan tidak bisa hanya bergantung pada inovasi alat semata, melainkan membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. Dr Ahmed Abdelaal menekankan pentingnya penguatan kapasitas tenaga medis, kesiapan infrastruktur, model pembiayaan yang mendukung, serta kolaborasi lintas sektor agar akses pengobatan jantung dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.