Kehadiran minuman fungsional kini kian menjamur di berbagai rak supermarket di Singapura dan dibanderol dengan harga yang jauh lebih mahal, bahkan mencapai 345 persen lebih tinggi dibandingkan minuman bersoda biasa. Tren ini didorong oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang beralih ke pola hidup sehat serta tren bebas alkohol, di mana konsumen rela merogoh kocek lebih dalam demi klaim kesehatan seperti menjaga kesehatan pencernaan, mengurangi stres, hingga meningkatkan fokus mental.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Namun, di balik popularitasnya yang meroket, timbul pertanyaan mendasar mengenai efektivitas kandungan di dalamnya. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh ahli gizi Shania Khialani melalui program Talking Point terhadap sejumlah sampel minuman, terungkap bahwa kadar bahan aktif yang terkandung sering kali berada di batas bawah atau bahkan jauh di bawah ambang batas yang direkomendasikan secara ilmiah untuk memberikan dampak nyata bagi tubuh.
Sebagai contoh, minuman probiotik yang diuji hanya memiliki 200 juta CFU, padahal dosis harian yang efektif untuk pencernaan berkisar antara 1 miliar hingga 10 miliar CFU. Khialani menjelaskan bahwa seseorang harus mengonsumsi setidaknya lima kaleng minuman tersebut setiap harinya selama berminggu-minggu jika ingin merasakan manfaat yang sesungguhnya.
Kondisi serupa juga ditemukan pada minuman pereda stres yang mengandung ashwagandha serta minuman penambah fokus dengan kandungan kafein alami dari yerba mate yang berada di bawah takaran ideal. Menurut analisis tersebut, produsen kerap sengaja memberikan takaran rendah untuk menghindari biaya produksi yang tinggi serta menjaga agar rasa produk tetap dapat diterima oleh konsumen sensitif.
Di sisi lain, mengonsumsi minuman fungsional secara berlebihan dalam sehari demi mengejar dosis harian justru dapat memicu masalah kesehatan baru, seperti risiko kerusakan gigi akibat kandungan asam sitrat dan malat, gangguan tidur akibat akumulasi kafein, hingga peningkatan rasa lapar palsu akibat pemanis buatan. Pada akhirnya, sebagian besar manfaat yang dirasakan konsumen kerap kali bersumber dari efek plasebo semata akibat keyakinan psikologis terhadap produk tersebut.