Keberadaan keluarga Yahudi ultra-ortodoks telah menjadi pemandangan yang tak terpisahkan dari dinamika sosial di Israel. Dengan penampilan yang khas, kelompok yang juga dikenal sebagai Haredi ini kini semakin bertambah jumlahnya sekaligus memperkuat pengaruh politik serta kultural mereka di tengah masyarakat.
Namun, pertumbuhan ini turut memicu gesekan dengan kelompok warga Israel lainnya, baik dari kalangan agamais maupun sekuler. Ketegangan kian memuncak menyusul maraknya protes publik terhadap wacana perubahan aturan pengecualian wajib militer bagi pria ultra-ortodoks, terutama di tengah situasi konflik berkepanjangan dan persiapan pemilihan umum nasional mendatang.
Berdasarkan doktrin utama komunitas Haredi, pendalaman kitab suci Taurat serta mengajarkannya kepada keluarga dan komunitas dipandang sebagai kewajiban tertinggi di atas segalanya. Sebagaimana diwartakan oleh Associated Press, banyak dari mereka meyakini bahwa pengiriman pemuda ke dalam dinas militer berpotensi mengorbankan praktik keagamaan yang mereka jalani.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi sisi lain, pandangan berbeda juga muncul dari sebagian kalangan di dalam komunitas tersebut yang tetap melihat pentingnya partisipasi dalam pertahanan negara. Sejumlah pihak mengakui dilema antara menjaga tradisi belajar Taurat secara penuh dengan panggilan tanggung jawab moral untuk ikut melindungi keselamatan bangsa.
Para rabi dan pemimpin spiritual Haredi menegaskan bahwa pengecualian dari wajib militer sangat krusial guna menghindari melemahnya tingkat kesalehan generasi muda di usia yang rentan. Sementara itu, kalangan militer dan sebagian besar warga negara menyoroti perlunya pemerataan beban pengorbanan di tengah situasi keamanan nasional yang penuh tantangan.