Greenpeace Indonesia menegaskan bahwa kawasan Raja Ampat belum sepenuhnya bebas dari ancaman industri tambang. Organisasi lingkungan tersebut mendesak para pelaku industri kendaraan listrik atau Electric Vehicle agar segera memutus rantai pasok nikel yang berasal dari kawasan konservasi tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Desakan tersebut disuarakan melalui aksi damai tanpa kekerasan yang digelar oleh para aktivis Greenpeace bertepatan dengan pembukaan pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show 2026 di Tangerang, Banten. Dalam aksi tersebut, mereka membentangkan spanduk bertuliskan "Protect Raja Ampat, Stop Dirty Energy" tepat saat Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita membuka acara.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Belgis Habiba, menyatakan bahwa perhatian mereka tetap tertuju ke Raja Ampat karena menilai belum ada langkah perlindungan menyeluruh dari pemerintah. Ia menyebut pencabutan empat dari lima izin tambang nikel tahun lalu belum cukup membuktikan keseriusan pemerintah dalam memulihkan lingkungan yang rusak.
"Greenpeace ingin menyampaikan kepada pemerintah Indonesia bahwa perhatian kami masih tertuju ke Raja Ampat. Meski Juni tahun lalu Menteri Bahlil Lahadalia mengumumkan pencabutan empat dari lima izin tambang nikel di Raja Ampat, sedikit sekali bukti bahwa pemerintah Indonesia serius melindungi Raja Ampat dari ancaman industri ekstraktif dan memulihkan lingkungan yang rusak akibat tambang nikel," kata Belgis.
Berdasarkan laporan terbaru Greenpeace bertajuk "Surga yang Tak Terlindungi", saat ini masih terdapat tiga perusahaan yang memproses izin pertambangan nikel di Pulau Waigeo serta upaya pengaktifan izin tambang batu bara di Pulau Misool. Selain itu, aktivitas PT Gag Nikel juga masih disorot karena ditemukan puluhan pelanggaran lingkungan yang berisiko merusak ekosistem pesisir dan sumber daya air.
Greenpeace turut menyoroti keterkaitan rantai pasok nikel PT Gag dengan industri kendaraan listrik global. Sebagian bijih nikel perusahaan tersebut diolah oleh pihak yang terhubung dengan produsen komponen baterai kendaraan listrik global seperti Toyota, Honda, Hyundai, hingga Tesla.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Anggi Putra Prayoga, meminta para produsen otomotif dan baterai untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap rantai pasok mereka. Greenpeace berharap industri kendaraan listrik secara tegas menolak suplai nikel yang merusak kawasan penting bagi keanekaragaman hayati dan masyarakat adat.
"Kami mendesak para pelaku rantai pasok, termasuk produsen baterai kendaraan listrik, untuk menginvestigasi rantai pasok mereka, serta secara jelas dan terbuka menolak suplai nikel yang berasal dari tambang-tambang di Raja Ampat atau area-area yang penting untuk keanekaragaman hayati dan Masyarakat Adat," ujar Anggi.
Meski mendukung transisi energi untuk mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil, Greenpeace menekankan bahwa proses tersebut harus berjalan secara berkeadilan. Mereka mendesak pemerintah agar memberikan perlindungan permanen bagi Raja Ampat dan memperketat penegakan hukum di pulau-pulau kecil.