Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kini berada di persimpangan jalan yang dilematis. Pernyataannya yang menegaskan komitmen menurunkan inflasi tanpa dibarengi sinyal kesiapan menaikkan suku bunga memicu aksi jual tajam di pasar obligasi, yang berpotensi memaksa bank sentral mengambil keputusan berat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kondisi tersebut membuat Warsh harus memilih antara menentang keinginan Presiden Donald Trump yang menghendaki kebijakan moneter lebih longgar, atau menghadapi tekanan dari para pejabat bank sentral lain yang justru mendesak pengetatan kebijakan segera.
Situasi kian rumit ketika Warsh memberikan isyarat bahwa The Fed mungkin akan mengubah tolok ukur keberhasilan penanganan inflasi. Selama ini, target inflasi ditetapkan sebesar 2 persen secara tahunan melalui indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE.
"Itu angka kita dan kita tetap berpegang pada itu, namun siapa yang tahu apa yang akan kita katakan mengenai strategi setelah Januari mendatang," ujar Warsh dalam konferensi pers usai pertemuan kebijakan dua hari.
Kombinasi antara pernyataan keras menekan inflasi tanpa langkah nyata mengarah pada target 2 persen dan wacana mengubah target tersebut mendorong imbal hasil obligasi 31 tahun melampaui 5,2 persen yang merupakan level tertinggi dalam 19 tahun terakhir.
Para pengamat ekonomi menilai reaksi pasar tersebut sebagai bentuk mosi tidak percaya terhadap kapasitas The Fed dalam menjinakkan inflasi. Tekanan internal juga mulai menguat di tubuh bank sentral karena sejumlah pembuat kebijakan mendesak tindakan konkrit untuk meredam laju kenaikan harga.
Dengan tantangan ekonomi global yang masih bergejolak dan tekanan politik yang mengintai, langkah yang akan diambil Warsh pada pertemuan kebijakan mendatang dipastikan akan menjadi sorotan utama para pelaku pasar keuangan dunia.