Dalam dunia ekonomi arus utama, labour supply atau penawaran tenaga kerja merujuk pada total jam kerja yang ingin dicurahkan oleh para pekerja pada tingkat upah riil tertentu. Konsep ini umumnya digambarkan melalui kurva penawaran tenaga kerja yang memetakan tingkat upah hipotesis secara vertikal dan jumlah tenaga kerja secara horizontal. Terdapat tiga aspek penting dalam hal ini, yakni fraksi populasi yang bekerja, rata-rata jam kerja pekerja aktif, serta rata-rata jam kerja populasi secara keseluruhan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kurva penawaran tenaga kerja sendiri berakar dari trade-off antara bekerja dan menikmati waktu luang atau leisure. Saat tingkat upah riil meningkat, biaya peluang dari waktu luang turut melonjak yang kemudian mendorong pekerja menambah jam kerja melalui substitution effect. Kendati demikian, kenaikan upah juga memberikan pendapatan lebih tinggi untuk jam kerja yang sama sehingga memicu income effect di mana pekerja memilih lebih banyak waktu luang. Jika substitution effect mendominasi maka kurva akan miring ke atas, namun kurva bisa melengkung ke belakang apabila income effect jauh lebih kuat pada tingkat upah tertentu.
Bergeser ke sudut pandang Marxist, penawaran tenaga kerja merupakan pilar utama dalam masyarakat kapitalis agar roda industri tetap berputar. Agar terhindar dari krisis kekurangan tenaga kerja, sebagian besar populasi harus diposisikan tidak memiliki sumber penghidupan mandiri sehingga terpaksa menjual tenaga demi upah subsistensi. Kondisi tersebut membuat buruh upahan pada masa prasektor industri umumnya hanya dilakoni oleh masyarakat yang tidak mempunyai lahan pribadi atau kepemilikan aset penunjang hidup yang memadai.
Dinamika penawaran tenaga kerja perempuan turut mengalami revolusi besar seiring ditemukannya pil kontrasepsi oral pertama bernama Enovid pada tahun 1960. Kehadiran pil KB ini memberikan kendali penuh bagi perempuan dalam merencanakan keluarga sehingga mereka memiliki fleksibilitas lebih luas dalam menentukan jalur karier dan pendidikan. Berdasarkan catatan sejarah, terobosan medis ini berjalan beriringan dengan kebangkitan gerakan perempuan serta akses aborsi yang semakin terbuka pada masanya.
Menurut riset dari Katz dan Goldin, akses luas terhadap pil kontrasepsi memicu dua perubahan ekonomi krusial bagi masyarakat. Perubahan pertama adalah direct effect di mana perempuan bisa mengejar pendidikan tinggi dan karier tanpa harus menghadapi risiko sosial atau penalti penundaan pernikahan yang berat. Sementara itu, perubahan kedua dikenal sebagai social multiplier effect yang turut berdampak pada kaum pria karena mereka memiliki kesempatan menunda pernikahan guna menemukan pasangan hidup yang lebih ideal.